Candi Cangkuang

432 Hits
Kabupaten Garut

Telpon : 0813-1677-9909

Image result for candi cangkuang garutMasyarakat umumnya hanya mengetahui keberadaan candi yang terletak di sekitar Jawa Tengah atau DIY Yogyakarta.  Namun Jawa Barat pun memiliki situs candi yang cukup berpengaruh bagi sejarah Indonesia. Situs tersebut bernama Candi Cangkuang yang letaknya tepat di wilayah Kampung Ciakar, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Candi Cangkuang berada di puncak bukit kecil di Pulau Panjang dan dikelilingi oleh situ Cangkuang.

Nama ‘Cangkuang’ diambil dari nama Desa Cangkuang tempat dimana candi tersebut ditemukan. Namun ada yang berpendapat nama ‘Cangkuang’ adalah nama tumbuhan atau pohon yang banyak tumbuh di sekitar candi.

Candi ini adalah candi Hindu yang ditemukan pertama kali pada tahun 1966 oleh tim ahli purbakala Drs. Uka Tjandrasasmita terhadap buku Notulen Bataviach Genoot Schap yang ditulis oleh orang Belanda bernama Vorderman tahun 1893. Dalam buku tersebut dituliskan  bahwa terdapat makam Arif Muhammad dan arca Siwa di dalam komplek candi.  Saat menggali situs, ditemukan fondasi berukuran 4,5×4,5 meter dan puing-puing candi yang berserakan. Tidak ada keterangan jelas siapa atau kerajaan apa yang membangun candi, namun ahli purbakala memperkirakan dibangun pada abad ke-8.

Arief Muhammad dianggap oleh penduduk setempat sebagai leluhur mereka. Beliau merupakan tokoh penyebar ajaran Islam di daerah tersebut. Semula beliau ditugaskan sebagai senopati di keseltanan Mataram Islam yang terletak di Yogyakarta, lalu diminta untuk menyerang dan mengusir VOC di Batavia di bawah pimpinan J.P.Coen. Kemudian Arief Muhammad hijrah ke Garut dan membangun keluarga serta berusaha untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat di wilayah tersebut. Makam Arief Muhammad di Candi Cangkuang merupakan rekonstruksi dari bentuk aslinya ketika pemugaran Candi Cangkuang pada tahun 1976.

Makam ini memiliki suatu ketentuan atau larangan adat yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh berziarah ke makam pada hari Rabu. Alasannya pada hari Rabu dikhususkan untuk kegiatan mengaji ceramah dan mempelajari ilmu agama Islam. Tidak jauh dari tempat penemuan makam Arief Muhammad, ditemukan pula kitab-kitab tulisan tangan yang menggunakan kulit kayu pohon saeh sebagai ‘kertas’.

Candi Cangkuang yang kini berdiri merupakan hasil  rekayasa rekonstruksi, karena bangunan  asli yang hanyalah sekitar 40%. Di antara sisa bangunan candi, ditemukan arca siwa namun keadaannya kurang terawat.

Image result for candi cangkuang garut

Selain bangunan candi dan makam, terdapat pula pemukiman penduduk yang wajib anda kunjungi karena permukiman ini berbeda dan menjadi cagar budaya. Kampung ini bernama Kampung Adat Pulo. Dalam komplek pemukiman hanya terdapat enam rumah dan satu mesjid kecil. Konon masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut merupakan keturunan langsung dari Arief Muhammad. Rumah-rumah ini masih tradisional karena beberapa masih berbentuk rumah panggung dengan tembok bilik kayu dan beratapkan ijuk. Jumlah rumah di kawasan ini tidak boleh bertambah atau berkurang dan warga kampung tidak boleh lebih dari enam kepala keluarga yang pemiliknya mengikuti garis keturunan pihak perempuan.

Untuk sampai ke kompleks Candi Cangkuang, pengunjung harus menyeberangi danau dengan rakit. Pengunjung cukup menyiapkan Rp. 7.500,- per orang untuk tiket masuk. namun bagi rombongan wisatawan, pengunjungan perlu menyediakan biaya sebesar Rp 25.000,- sampai dengan Rp 30.000,- dengan paket tiket masuk, sewa rakit penyebrangan, pengawalan dan membayar guide lokal.

Tarif tiket masuk ke kawasan tempat wisata di Garut Candi Cangkuang Garut adalah / orang akan tetapi bagi rombongan wisatawan yang memakai bus biayanya cukup membengkak karena ada pengawalan dan tiket naik rakit penyebrangan ke lokasi Candi Cangkuang Garut.
akses yang ditempuh untuk sampai ke Candi Cangkuang dapat menggunakan transportasi umum yaitu Bus jurusan Garut dari Bandung atau Jakarta lalu berhenti di alun-alun kecamatan Leles. Kemudian dari alun-alun Leles, anda dapat menggunakan andong ataupun ojekatau berjalan kaki sejauh 3 km.

sumber : Dinas Pariwisata Budaya Jawa Barat

Hotel Terdekat

Peluang Pariwisata Serupa