Kabupaten Kuningan

666 Hits

Profil

Logo Kabupaten kuningan.jpgKabupaten Kuningan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Kuningan.

Sejarah

Asal Nama

Ada beberapa kemungkinan tentang asal-usulnya Kuningan dijadikan nama daerah ini. Salah satu kemungkinan adalah bahwa istilah tersebut berasal dari nama sejenis logam, yaitu kuningan. Dalam bahasa Sunda (juga bahasa Indonesia), kuningan adalah sejenis logam yang terbuat dari bahan campuran berupa timah, perak dan perunggu. Jika disepuh (dibersihkan dan diberi warna indah) logam kuningan itu akan berwarna kuning mengkilap seperti emas sehingga benda dibuat dari bahan ini akan tampak bagus dan indah. Memang logam kuningan bisa dijadikan bahan untuk membuat aneka barang keperluan hidup manusia seperti patung, bokor, kerangka lampu maupun hiasan dinding.

Di Sangkanherang, dekat Jalaksana sebelum tahun 1914 ditemukan beberapa patung kecil terbuat dari kuningan. Paling tidak sampai tahun 1950-an barang-barang yang terbuat dari bahan logam kuningan itu sangat disukai oleh masyarakat elit (menak) di daerah Kuningan. Barang-barang yang dimaksud berbentuk alat perkakas rumah tangga dan barang hiasan di dalam rumah. Benda-benda dari bahan kuningan itu juga disukai pula oleh sejumlah masyarakat Sunda, Jawa, Melayu, dan beberapa kelompok masyarakat di Nusantara umumnya.

Di daerah Ciamis dan Kuningan sendiri terdapat cerita legenda yang bertalian dengan bokor (tempat menyimpan sesuatu di dalam rumah dan sekaligus sebagai barang perhiasan) yang terbuat dari logam kuningan[. Kedua cerita legenda dimaksud menuturkan tentang sebuah bokor kuningan yang dijadikan alat untuk menguji tingkat keilmuan seorang tokoh agama.

Di Ciamis – dalam cerita Ciung Wanara – bokor itu digunakan untuk menguji seorang pendeta Galuh (masa pra-Islam) bernama Ajar Sukaresi yang bertapa di Gunung Padang. Pendeta ini diminta oleh Raja Galuh yang ibukota kerajaannya berkedudukan di Bojong Galuh (desa Karangkamulya) sekarang yang terletak sekitar 12 km sebelah timur kota Ciamis, untuk menaksir perut istrinya yang buncit, apakah sedang hamil atau tidak. Kesalahan menaksir akan berakibat pendeta itu kehilangan nyawanya. Sesungguhnya buncitnya perut putri tersebut merupakan akal-akalan Sang Raja, dengan memasangkanbokor kuningan pada perut sang putri yang kemudian ditutupi dengan kain sehingga tampak seperti sedang hamil. Perbuatan tersebut dilakukan semata-mata untuk mengelabui dan mencelakakan Sang Pendeta saja.

Pendeta Ajar Sukaresi yang sudah mengetahui akal busuk Sang Raja tetap tenang dalam menebak teka-teki yang diberikan oleh Sang Raja, Sang Pendeta pun berkata bahwa memang perut Sang Putri tersebut sedang hamil. Sang Raja pun merasa gembira mendengar jawaban dari Pendeta tersebut,karena dia berpikir akal busuknya untuk mengelabui Sang Pendeta berhasil. Sang Raja dengan besar kepala berkatabahwa tebakan Sang Pendeta salah, dan kemudian memerintahkan kepada prajuritnya agar pendeta tersebut dibawa ke penjara dan segera Sang Raja mengeluarkan perintah agar pendeta tersebut di hukum mati.

Teryata tak berapa lama kemudian diketahui bahwa Sang Puteri tersebut benar-benar hamil. Muka Raja tersebut merah padam,hal ini tak mungkin terjadi pikirnya. Dengan gelap mata Sang Raja tersebut marah dan menendang bokor kuningan, kuali dan penjara besi yang berada di dekatnya. Bokor, kuali dan penjara besi itu jatuh di tempat yang berbeda. Daerah tempat jatuhnya bokor kuningan, kemudian diberi nama Kuningan yang terus berlaku sampai sekarang. Daerah tempat jatuhnya kuali (bahasa Sunda: kawali) dinamai Kawali (sekarang kota kecamatan yang termasuk ke dalam daerah Kabupaten Ciamis dan terletak antara Kuningan dan Ciamis, sekitar 65 km sebelah selatan kota Kuningan), dan daerah tempat jatuhnya penjara besi dinamai Kandangwesi (kandangwesi merupakan kosakata bahasa Sunda yang artinya penjara besi) terletak di daerah Garut Selatan.

Dalam Babad Cirebon dan tradisi Lisan Legenda Kuningan bokor kuningan itu digunakan untuk menguji tokoh ulama Islam (wali) bernama Sunan Gunung Jati. Jalan ceritanya kurang lebih sama dengan cerita Ciung Wanara, hanya di dalamnya terdapat beberapa hal yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud terletak pada waktu dan tempat terjadinya peristiwa, tujuan dan akibat pengujian itu, dan tidak ada peristiwa penendangan bokor. Jika cerita Ciung Wanara menuturkan gambaran zaman kerajaan Galuh yang sepenuhnya bersifat kehinduan atau masa pra-Islam, maka Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan mengisahkan tuturan pada zaman peralihan dari masa Hindu menuju masa Islam atau pada masa proses Islamisasi. Dengan demikian, isi cerita Ciung Wanara lebih tua daripada isi Babad Cirebon atau tradisi lisan Legenda Kuningan. Cerita Ciung Wanara mengungkapakan tempat peristiwanya di Bojong Galuh, sedangkan Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan mengemukakan bahwa peristiwanya terjadi di Luragung (kota kecamatan yang terletak 19 km sebelah timur Kuningan).

Tidak seperti dalam cerita Ciung Wanara, penaksiran kehamilan Puteri dilatarbelakangi oleh tujuan mencelakakan pendeta Ajar Sukaresi dan berakibat pendeta tersebut dihukum mati, dalam Babad Cirebon dan tradisi lisan Legenda Kuningan penaksiran kehamilan tersebut dimaksudkan untuk menguji keluhuran ilmu Sunan Gunung Jati semata-mata dan berdampak mempertinggi kedudukan keulamaan wali tersebut. Anak yang dilahirkannya adalah seorang bayi laki-laki yang kemudian dipelihara dan dibesarkan oleh Ki Gedeng Luragung, penguasa daerah Luragung. Selajutnya Sunan Gunung Jati menjadi Sultan di Cirebon. Setelah dewasa bayi itu diangkat oleh Sunan Gunung Jati menjadi pemimpin atau kepala daerah Kuningan dengan nama Sang Adipati Kuningan.

Jadi, dari nama jenis logam bahan pembuatan bokor itulah daerah ini dinamakan daerah Kuningan. Itulah sebabnya, bokor kuningan dijadikan sebagai salah satu lambang daerah Kabupaten Kuningan. Lambang lain daerah ini adalah kuda yang berasal dari kuda samberani milik Dipati Ewangga, seorang Panglima perang Kuningan.

Menurut tradisi lisan Lagenda Kuningan yang lain, sebelum bernama Kuningan nama daerah ini adalah Kajene. Kajene katanya mengandung arti warna kuning (jene dalam bahasa Jawa berarti kuning). Secara umum warna kuning melambangkan keagungan dalam masyarakat Nusantara. Berdasarkan bahan bokor kuningan dan warna kuning itulah, kemudian pada masa awal Islamisasi daerah ini dinami Kuningan. Namun keotentikan Kajene sebaga nama pertama daerah ini patut diragukan, karena menurut naskah Carita Parahyangan sumber tertulis yang disusun di daerah Ciamis pada akhir abad ke-16 Masehi, Kuningan sebagai nama daerah (kerajaan) telah dikenal sejak awal kerajaan Galuh, yakni sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi. Sementara itu, wilayah kerajaan Kuningan terletak di daerah Kabupaten Kuningan sekarang.

Adalagi menurut cerita mitologi daerah setempat yang mengemukakan bahwa nama daerah Kuningan itu diambil dari ungkapan dangiang kuning, yaitu nama ilmu kegaiban(ajian) yang bertalian dengan kebenaran hakiki. Ilmu ini dimiliki oleh Demunawan, salah seorang yang pernah menjadi penguasa (raja) di daerah ini pada masa awal kerajaan Galuh.

Dalam tradisi agama Hindu terdapat sistem kalender yang enggambarkan siklus waktu upacara keagamaan seperti yang masih dipakai oleh umat Hindu-Bali sekarang. Kuningan menjadi nama waktu (wuku) ke 12 dari sistem kalender tersebut. Pada periode wuku Kuningan selalu daiadakan upacara keagamaan sebagai hari raya. Mungkinkah, nama wuku Kuningan mengilhami atau mendorong pemberian nama bagi daerah ini?

Yang jelas, menurut Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan, dua naskah yang ditulis sezaman pada daun lontar beraksara dan berbahasa Sunda Kuna, pada abad ke-8 Masehi, Kuningan sudah disebut sebagai nama kerajaan yang terletak tidak jauh dari kerajaan Galuh (Ciamis sekarang) dan kerajaan Galunggung (Tasikmalaya sekarang). Lokasi kerajaan tersebut terletak di daerah yang sekarang menjadi Kabupaten Kuningan.

Masa Pra sejarah

Diperkirakan ± 3.500 tahun sebelum masehi sudah terdapat kehidupan manusia di daerah Kuningan, hal ini berdasarkan pada beberapa peninggalan kehidupan pada zaman pra sejarah yang menunjukkan adanya kehidupan pada zaman Neoliticum dan batu-batu besar yang merupakan peninggalan dari kebudayaan Megaliticum. Bukti peninggalan tersebut dapat dijumpai di Kampung Cipari Kelurahan Cigugur yaitu dengan ditemukannya peninggalan pra-sejarah pada tahun 1972, berupa alat dari batu obsidian (batu kendan), pecahan-pecahan tembikar, kuburan batu, pekakas dari batu dan keramik. Sehingga diperkirakan pada masa itu terdapat pemukiman manusia yang telah memiliki kebudayaan tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Situs Cipari mengalami dua kali masa pemukiman, yaitu masa akhir Neoleticum dan awal pengenalan bahan perunggu berkisar pada tahun 1000 SM sampai dengan 500 M. Pada waktu itu masyarakat telah mengenal organisasi yang baik serta kepercayaan berupa pemujaan terhadap nenek moyang (animisme dan dinamisme). Selain itu diketemukannya pula peninggalan adat dari batu-batu besar dari zaman megaliticum.

Masa Hindu

Dalam carita Parahyangan disebutkan bahwa ada suatu pemukiman yang mempunyai kekuatan politik penuh seperti halnya sebuah negara, bernama Kuningan. Kerajaan Kuningan tersebut berdiri setelah Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja yang kemudian bergelar Rahiyang Tangkuku atau Sang Kuku yang bersemayam di Arile atau Saunggalah. Seuweukarma menganut ajaran Dangiang Kuning dan berpegang kepada Sanghiyang Dharma (Ajaran Kitab Suci) serta Sanghiyang Riksa (sepuluh pedoman hidup). Ekspansi kekuasaan Kuningan pada zaman kekuasaan Seuweukarma menyeberang sampai ke negeri Melayu. Pada saat itu masyarakat Kuningan merasa hidup aman dan tentram di bawah pimpinan Seuweukarma yang bertahta sampai berusia lama. Berdasarkan sumber carita Parahyangan juga, bahwa sebelum Sanjaya menguasai Kerajaan Galuh, dia harus mengalahkan dulu Sang Wulan – Sang Tumanggal – dan Sang Pandawa tiga tokoh penguasa di Kuningan (= Triumvirat), yaitu tiga tokoh pemegang kendali pemerintahan di Kuningan sebagaimana konsep Tritangtu dalam konsep pemerintahan tradisional suku Sunda Buhun. Sang Wulan, Tumanggal, dan Pandawa ini menjalankan pemerintahan menurut adat tradisi waktu itu, yang bertindak sebagai Sang Rama, Sang Resi, dan Sang Ratu. Sang Rama bertindak selaku pemegang kepala adat, Sang Resi selaku pemegang kepala agama, dan Sang Ratu kepala pemerintahan. Makanya Kerajaan Kuningan waktu dikendalikan tokoh ‘Triumvirat’ ini berada dalam suasana yang gemah ripah lohjinawi, tata tentrem kerta raharja, karena masing-masing dijalankan oleh orang yang ahli di bidangnya. Tata aturan hukum/masalah adat selalu dijalankan adan ditaati, masalah kepercayaan / agama begitu juga pemerintahannya. Semuanya sejalan beriringan selangkah dan seirama.

Ketika Kuningan diperintah Resiguru Demunawan pun (menantu Sang Pandawa), Kerajaan Kuningan memiliki status sebagai Kerajaan Agama (Hindu). Hal ini nampak dari ajaran-ajaran Resiguru Demunawan yang mengajarkan ilmu Dangiang Kuning – keparamartaan, sehingga Kuningan waktu menjadi sangat terkenal. Dalam naskah carita Parahyangan disebutkan kejayaan Kuningan waktu diperintah Resiguru Demunawan atau dikenal dengan nama lain Sang Seuweukarma (penguasa/pemegang Hukum) atau Sang Ranghyangtang Kuku/Sang Kuku, kebesaran Kuningan melebihi atau sebanding dengan Kebesaran Galuh dan Sunda (Pakuan). Kekuasaannya meliputi Melayu, Tuntang, Balitar, dan sebagainya. Hanya ada 3 nama tokoh raja di Jawa Barat yang berpredikat Rajaresi, arti seorang pemimpin pemerintahan dan sekaligus ahli agama (resi). Mereka itu adalah:

  1. Resi Manikmaya dari Kerajaan Kendan (sekitar Cicalengka – Bandung)
  2. Resi Demunawan dari Saunggalah Kuningan
  3. Resi Niskala Wastu Kencana dari Galuh Kawali

Perkembangan kerajaan Kuningan selanjutnya seakan terputus, dan baru pada 1175 masehi muncul lagi. Kuningan pada waktu itu menganut agama Hindu di bawah pimpinan Rakean Darmariksa dan merupakan daerah otonom yang masuk wilayah kerajaan Sunda yang terkenal dengan nama Pajajaran. Cirebon juga pada tahun 1389 masehi masuk kekuasaan kerajaan Pajajaran, namun pada abad ke-15 Cirebon sebagai kerajaan Islam menyatakan kemerdekaannya dari Pakuan Pajajaran.

Masa Islam

Sejarah Kuningan pada masa Islam tidak lepas dari pengaruh kesultanan Cirebon. Pada tahun 1470 masehi datang ke Cirebon seorang ulama besar agama Islam yaitu Syeh Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah dan ibunya Rara Santang atau Syarifah Modaim putra Prabu Siliwangi. Syarif Hidayatullah adalah murid Sayid Rahmat yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel yang memimpin daerah ampeldenta di Surabaya. Kemudian Syeh Syarif Hidayatullah ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, dan mula-mula tiba di Cirebon yang pada waktu Kepala Pemerintahan Cirebon dipegang oleh Haji Doel Iman. Pada waktu 1479 masehi Haji Doel Iman berkenan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Syeh Syarif Hidayatullah setelah menikah dengan putrinya. Karena terdorong oleh hasrat ingin menyebarkan agama Islam, pada tahun 1481 Masehi Syeh Syarif Hidayatullah berangkat ke daerah Luragung, Kuningan yang masuk wilayah Cirebon Selatan yang pada waktu itu dipimpin oleh Ki Gedeng Luragung yang bersaudara dengan Ki Gedeng Kasmaya dari Cirebon, selanjutnya Ki Gedeng Luragung memeluk agama Islam.

Pada waktu Syeh Syarif Hidayatullah di Luragung, Kuningan, datanglah Ratu Ontin Nio istrinya dalam keadaan hamil dari negeri Cina (bergelar: Ratu Rara Sumanding) ke Luragung, Kuningan, dari Ratu Ontin Nio alias Ratu Lara Sumanding lahir seorang putra yang tampan dan gagah yang diberi nama Pangeran Kuningan. setelah dari Luragung, Kuningan, Syeh Syarif Hidayatullah dengan rombongan menuju tempat tinggal Ki Gendeng Kuningan di Winduherang, dan menitipkan Pangeran Kuningan yang masih kecil kepada Ki Gendeng Kuningan agar disusui oleh istri Ki Gendeng Kuningan, karena waktu itu Ki Gendeng Kuningan mempunyai putera yang sebaya dengan Pangeran Kuningan namanya Amung Gegetuning Ati yang oleh Syeh Syarif Hidayatullah diganti namanya menjadi Pangeran Arya Kamuning serta dia memberikan amanat bahwa kelak dimana Pangeran Kuningan sudah dewasa akan dinobatkan menjadi Adipati Kuningan.

Setelah Pangeran Kuningandan Pangeran Arya Kamuning tumbuh dewasa, diperkirakan tepatnya pada bulan Muharam tanggal 1 September 1498 Masehi, Pangeran Kuningan dilantik menjadi kepala pemerintahan dengan gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan (Adipati Kuningan) dan dibantu oleh Arya Kamuning. Maka sejak itulah dinyatakan sebagai titik tolak terbentuknya pemerintahan Kuningan yang selanjutnya ditetapkan menjadi tanggal hari jadi Kuningan

Masuknya Agama Islam ke Kuningan nampak dari munculnya tokoh-tokoh pemimpin Kuningan yang berasal atau mempunyai latar belakang agama. Sebut saja Syekh Maulana Akbar saudara kandung Syekh Datuk Kahfi, yang akhirnya menikahkan putranya, bernama Syekh Maulana Arifin saudara sepupu Pangeran Panjunan, dengan Nyai Ratu Selawati penguasa Kuningan waktu itu putri Pangeran Surawisesa cucu Prabu Siliwangi yang juga menantu Prabu Langlangbuana. Hal ini menandai peralihan kekuasaan dari Hindu ke Islam yang memang berjalan dengan damai melalui ikatan perkawinan. Waktu itu di Kuningan muncul pedukuhan-pedukuhan yang bermula dari pembukaan-pembukaan pondok pesantren, seperti Pesantren Sidapurna (menuju kesempurnaan), Syekh Rama Ireng (Balong Darma). Termasuk juga diantaranya pesantren Lengkong oleh Haji Hasan Maulani.

Pasca Kemerdekaan

Kuningan menjadi tempat dilaksanakannya Perundingan Linggarjati pada bulan November 1946. Karena tidak memungkinkan perundingan dilakukan di Jakarta maupun di Yogyakarta (ibukota sementara RI), maka diambil jalan tengah jika perjanjian diadakan di Linggarjati, Kuningan. Hari Minggu pada tanggal 10 November 1946 Lord Killearn tiba di Cirebon. Ia berangkat dari Jakarta menumpang kapal fregat Inggris H.M.S. Veryan Bay. Ia tidak berkeberatan menginap di Hotel Linggarjati yang sekaligus menjadi tempat perundingan.

Delegasi Belanda berangkat dari Jakarta dengan menumpang kapal terbang “Catalina” yang mendarat dan berlabuh di luar Cirebon. Dari “Catalina” mereka pindah ke kapal perang “Banckert” yang kemudian menjadi hotel terapung selama perjanjian berlangsung. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sjahrir menginap di desa Linggasama, sebuah desa dekat Linggarjati. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sendiri menginap di kediaman Bupati Kuningan. Kedua delegasi mengadakan perundingan pada tanggal 11-12 November 1946 yang ditengahi oleh Lord Kilearn, penengah berkebangsaan Inggris.

Letak dan pembagian administrasi

Kabupaten Kuningan terletak pada titik koordinat 108° 23 – 108° 47 Bujur Timur dan 6° 47 – 7° 12 Lintang Selatan. Sedangkan ibu kotanya terletak pada titik koordinat 6° 45 – 7° 50 Lintang Selatan dan 105° 20 – 108° 40 Bujur Timur.

Bagian timur wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian barat berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Ceremai (3.076 m) di perbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Gunung Ceremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat.

Dilihat dari posisi geografisnya terletak di bagian timur Jawa Barat berada pada lintasan jalan regional yang menghubungkan kota Cirebon dengan wilayah Priangan Timur dan sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan Bandung-Majalengka dengan Jawa Tengah. Secara administratif berbatasan dengan

  • Sebelah Utara : Kabupaten Cirebon
  • Sebelah Timur : Kabupaten Brebes (Jawa Tengah)
  • Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah)
  • Sebelah Barat : Kabupaten Majalengka

Pembagian administrasi

Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361 desa dan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan. Berikut adalah kecamatan-kecamatan dalam wilayah Kabupaten Kuningan:

  1. Kecamatan Darma
  2. Kecamatan Kadugede
  3. Kecamatan Nusaherang
  4. Kecamatan Ciniru
  5. Kecamatan Hantara
  6. Kecamatan Selajambe
  7. Kecamatan Subang
  8. Kecamatan Cilebak
  9. Kecamatan Ciwaru
  10. Kecamatan Karangkancana
  11. Kecamatan Cibingbin
  12. Kecamatan Cibeureum
  13. Kecamatan Luragung
  14. Kecamatan Cimahi
  15. Kecamatan Cidahu
  16. Kecamatan Kalimanggis
  17. Kecamatan Ciawigebang
  18. Kecamatan Cipicung
  19. Kecamatan Lebakwangi
  20. Kecamatan Maleber
  21. Kecamatan Garawangi
  22. Kecamatan Sindangagung
  23. Kecamatan Kuningan
  24. Kecamatan Cigugur
  25. Kecamatan Kramatmulya
  26. Kecamatan Jalaksana
  27. Kecamatan Japara
  28. Kecamatan Cilimus
  29. Kecamatan Cigandamekar
  30. Kecamatan Mandirancan
  31. Kecamatan Pancalang
  32. Kecamatan Pasawahan

Topografi

Permukaan tanah Kabupaten Kuningan relatif datar dengan variasi berbukit-bukit terutama Kuningan bagian Barat dan bagian Selatan yang mempunyai ketinggian berkisar 700 meter di atas permukaan laut, sampai ke dataran yang agak rendah seperti wilayah Kuningan bagian Timur dengan ketinggian antara 120 meter sampai dengan 222 meter di atas permukaan laut.

Ketinggian di suatu tempat mempunyai pengaruh terhadap suhu udara, oleh sebab itu ketinggian merupakan salah saru faktor yang menentukan dalam pola penggunaan lahan untuk pertanian, karena setiap jenis tanaman menghendaki suhu tertentu sesuai dengan karakteristik tanaman yang bersangkutan.

Kemiringan tanah yang dimiliki Kabupaten Kuningan terdiri dari : dataran rendah, dataran tinggi, perbukitan, lereng, lembah dan pegunungan. Karakter tersebut memiliki bentang alam yang cukup indah dan udara yang sejuk, sangat potensial bagi pengembangan pariwisata.

Sebagian besar tekstur tanah termasuk kedalaman tekstur sedang dan sebagian kecil termasuk tekstur halus. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat kepekaan yang rendah dan sebagian kecil sangat tinggi terhadap erosi.

Tingkat kepekaan terhadap erosi disebabkan ketidaksesuaian antara penggunaan tanah dengan kemampuannya sehingga berakibat rusaknya proses fisika, kimia dan biologi tanah tersebut. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap besar kecilnya intensitas tingkat kepekatan terhadap terhadap erosi adalah faktor : lereng, sistem penggarapan, pengolahan tanah, jenis tanah dan prosentase penutup tanah.

Jenis Tanah

Berdasarkan penelitian tanah tinjau Kabupaten Kuningan memiliki 7 (tujuh) golongan tanah yaitu : Andosol, Alluvial, Podzolik, Gromosol, Mediteran, Latosol dan Regosol.

  1. Golongan tanah Andosol terdapat di bagian barat kecamatan Kuningan yang cocok untuk ditanami tembakau, bunga-bungaan, sayuran, buah-buahan, kopi, kina, teh, pinus dan apel.
  2. Golongan tanah Alluvial terdapat di bagian timur Kecamatan Kuningan, Kecamatan Kadugede bagian utara, Kecamatan Lebakwangi bagian utara, Kecamatan Garawangi dan Kecamatan Cilimus cocok untuk tanaman sawah, palawija dan perikanan.
  3. Golongan tanah Podzolik terdapat di bagian selatan kecamatan Kadugede, bagian timur kecamatan Ciniru, bagian timur kecamatan Luragung, bagian selatan kecamatan Lebakwangi dan kecamatan Ciwaru cocok untuk ladang dan tanaman keras.

Demografi

Penduduk Kabupaten Kuningan Tahun 2010 Menurut Hasil Suseda sebanyak 1.122.376 orang dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar 0,48% pertahun dan Angka Harapan Hidup (AHH) 70,76 tahun. Penduduk laki-laki sebanyak 580.796 orang dan penduduk perempuan sebanyak 564.801 orang dengan sex ratio sebesar 99,3 % artinya jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding penduduk laki-laki. Diperkirakan hampir 25% penduduk Kuningan bersifat comuter, mereka banyak yang bermigrasi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan sebagainya.

Penduduk Kuningan umumnya menggunakan bahasa Sunda dialek Kuningan. Mayoritas Penduduk Kuningan beragama Islam sekitar 98% (di daerah desa Manislor terdapat komunitas penduduk yang menganut aliran Ahmadiyah), lainnnya beragama Kristen Katolik yang tersebar di wilayah Cigugur, Cisantana, Citangtu, Cibunut, sedangkan sisanya beragama Protestan dan Budha yang kebanyakan terdapat di kota Kuningan. Di wilayah Cigugur juga terdapat penduduk yang menganut aliran kepercayaan yang disebut Aliran Jawa Sunda.

Sebagain besar penduduk kabupaten Kuningan bermatapencaharian sebagai petani (petani penggarap dan buruh tani), dan lainnya bekerja sebagai Pedagang, Pegawai negeri Sipil, TNI, Polisi, Wiraswasta dan sebagainya.

Angka beban tanggungan (Dependency Ratio) Kabupaten Kuningan tahun 2007 kondisinya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu mencapai angka 50,00. Angka beban tanggungan (ABT) merupakan perbandngan antara penduduk yang belum/tidak produktif (usia 0 – 14 Tahun dan usia 65 tahu ke atas) dibanding dengan penduduk usia produktif (usia 15 – 64 tahun), berarti pada tahun 2007 setiap 100 penduduk usia produktif di Kabupaten Kuningan menanggung sebanyak 50 penduduk usia belum/tidak produktif. Untuk lebih lengkapnya data penduduk serta beberapa informasi demografi kami sajikan dalam tabel di bawah ini.

Pendidikan

Menurut data Suseda tahun 2009, persentase penduduk dewasa yang melek huruf di Kabupaten Kuningan mencapai 98,03 % sedangkan hasil Suseda 2010 menunjuken adanya perbaikan menjadi 98,27%. Begitu pula rata-rata lama sekolah, pada tehun 2009, rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Kuningan sekitar 8,33 tahun meningkat menjadi 8,68 tahun pada tahun 2010.

Persentase penduduk Kabupaten Kuningan usia 10 tahun ke atas yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 72,66 persen; tamat SMP sebesar 13,73 persen; tamat SMU/SMK sebesar 10,88 persen; dan sebanyak 2,72 persen yang tamat pendidikan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi). Berarti dari 1.000 orang penduduk 10 tahun ke atas hanya 27 orang yang berkesempatan menyelesaikan pendldikan tinggi (Diploma, Akademi, Perguruan tinggi).

Adapun Pendidikan Luar Biasa untuk siswa berkebutuhan khusus kini telah banyak ditampung di sebuah lembaga pendidikan siswa berkebutuhan khusus, diantaranya SLBN Kuningan.

Ekonomi

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Kuningan pada tahun 2011 mencapai 5,43% lebih tinggi dibanding dengan dua tahun sebelumnya yaitu tahun 2009 sebesar 4,39% dan tahun 2010 sebesar 4,99%. Sedangkan Inflasi di Kabupaten Kuningan pada tahun 2010 berdasarkan perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 6,70%. Sementara Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kuningan sendiri berdasarkan harga konstan tahun 2000 untuk tahun 2011 sebesar Rp. 4,2 Trilyun dan PDRB per kapita berdasarkan harga konstan tahun 2000 pada tahun 2011 mencapai Rp. 3,9 juta. Tingkat daya beli masyarakat Kuningan tahun 2010 menurut data Suseda tercatat sebesar Rp. 549 ribu. Dan tingkat pengangguran di Kabupaten Kuningan angkanya cukup besar yaitu mencapai 7,6% dari total angkatan kerja. Lapangan pekerjaan penduduk Kabupaten Kuningan masih didominasi oleh dua sektor ekonomi yaitu sektor pertanian dan perdagangan. Sektor pertanian masih merupakan lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2010 dari total penduduk Kabupaten Kuningan yang bekerja, 39% bekerja di sektor pertanian dan 30% di sektor perdagangan.

Seni dan Budaya

Sebagai wilayah yang berada di daerah Priangan timur, kabupaten Kuningan kaya akan seni budaya Sunda yang khas, berbeda dari wilayah Sunda bagian barat. Berikut adalah seni budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Kuningan:

  1. Cingcowong,Upacara minta hujan di Kecamatan Luragung
  2. Sintren di Desa Dukuhbadag
  3. Goong Renteng di Kelurahan Sukamulya
  4. Tayuban di Kecamatan Ciniru
  5. Pesta Dadung di Kecamatan Subang
  6. Gembyung Terbangan di Desa Cilaja
  7. Sandiwara Rakyat
  8. Wayang Golek
  9. Kuda Lumping di Kelurahan Citangtu
  10. Reog di Desa Cengal
  11. Calung di Desa Cilaja
  12. Tradisi Kawin Cai di Kecamatan Jalaksana
  13. Tari Buyung di Kecamatan Cigugur
  14. Balap kuda Saptonan di Kecamatan Kuningan

Sarana & Prasarana

Jalan Darat

Total jalan darat di Kabupaten Kuningan adalah sepanjang 446,10 Km

Listrik

Jumlah pelanggan yang telah terdaftar hingga tahun 2002 adalah sebanyak 773.747 pelanggan (Unit Pelayanan Cirebon)

Telekomunikasi

Pelanggan PT. Telkom untuk daerah Kabupaten Kuningan masuk ke dalam Kandatel Cirebon yakni sebanyak 1.202 pelanggan (Tahun 2002)

Sarana Kesehatan

  1. Rumah sakit terdapat 6 buah, 1 milik Pemda dan 5 milik swasta
  2. Puskesmas Pembantu = 70 buah
  3. Puskesmas = 28 buah
  4. Puskesmas dengan fasilitas tempat perawatan = 6 buah
  5. Balai pengobatan swasta = 33 buah

Pos Pelayanan Terpadu

  1. 762 Pos Pelayanan Terpadu pratama
  2. 467 Pos Pelayanan Terpadu madya
  3. 89 Pos Pelayanan Terpadu purnama
  4. 7 Pos Pelayanan Terpadu mandiri

Tenaga Kesehatan

  1. Dokter umum 54 orang dan dokter spesialis 43 orang
  2. Dokter gigi 19 orang
  3. Bidan yang ada terdapat 321 orang bidan

Sarana dan Prasarana Pendidikan

  1. Taman Kanak-Kanak : 211 buah
  2. Sekolah Dasar : 685 buah
  3. Sekolah Menengah Pertama : 88 buah
  4. Sekolah Menengah Umum 27 buah
  5. Sekolah Menengah Kejuruan : 31 buah

Hotel

  1. Hotel Berbintang : 3 buah
  2. Hotel Non Berbintang : 35 buah

Bank

  1. Bank Pemerintah : 5 buah
  2. Bank Swasta : 7 buah
  3. Bank Pembangunan Daerah : 1 buah
  4. Bank Perkreditan Rakyat : 8 buah

Fasilitas Olahraga

Kuningan mempunyai salah satu stadion kebanggaan yaitu Stadion Mashud Wisnusaputra yang merupakan markas dari tim kesayangan kota Kuningan yaitu Pesik Kuningan. Pesik Kuningan saat ini bertanding pada Divisi I PSSI. Terletak persis di pusat kota Kuningan, stadion ini sangat strategis karena dapat dicapai dari seluruh penjuru kabupaten. Stadion Mashud Wisnusaputra mempunyai kapasitas sebesar 10.000 penonton, termasuk ke dalam stadion kategori D+ untuk tingkat nasional. Pernah dipakai sebagai homebase klub peserta IPL (Indonesian Primer League) asal Bandung yaitu Bandung FC pada IPL tahun 2010-2011. Stadion ini juga kerap dijadikan sebagai tempat latih tanding klub-klub peserta ISL seperti Persib Bandung dan Persija Jakarta. Untuk tahun 2013 dijadikan sebagai hombase klub peserta ISL (Indonesia Super League) Persita Tangerang. Di dalam kompleks stadion Mashud Wisnusaputra terdapat gelanggang basket, tenis lapangan, lapangan volley ball dan lintasan atletik, juga terdapat wisma yang representatif.

Selain itu di Luragung terdapat kolam renang Tirta Agung Mas salah satu kolam renang Olympic Size terbaik di Jawa Barat.

Tujuan Wisata

  1. Wisata Alam
    1. Talaga Remis
    2. Wisata Ikan Dewa Cibulan
    3. Taman Wisata Alam Linggajati
    4. Waduk Darma
    5. Darmaloka
    6. Sangkanhurip
    7. Desa Sitonjul
    8. Air Terjun Sidomba
    9. Curug Cilengkrang
    10. Palutungan & Curug Putri
    11. Curug Ngelay
    12. curug Bangkong
  2. Wisata Budaya
    1. Taman purbakala Cipari
    2. Gedung Perundingan Linggarjati
    3. Situs Sanghiang Sagarahiang
  3. Wisata Hutan
    1. Desa Setianegara
    2. Desa Jabranti
  4. Wisata Ziarah
    1. Cibulan
    2. Balong Keramat Darmaloka
    3. Goa Maria
  5. Wisata Adat
    1. Seren Taun
    2. Pesta Dadung

Makanan Khas dan Cinderamata

Makanan dan Minuman

Berkas:Tape Kng 070609 230 tdp.jpgOpak Bakar KARTIKA, Peuyeum, Jeruk Nipis Peras, Angling, Nasi Kasreng (Nasi Bungkus ciri Khas Luragung), Golono (Gorengan Khas Dari Luragung), Keripik Becak, Gaplek Luragung dan Raragudig, ketempling, rengginang.

Cinderamata

  1. Batu Ony
  2. Batu Granit
  3. Suiseki
  4. Bonsai
  5. Cincin
  6. Peti Antik
  7. Calung

Sumber: Situs Kabupaten Kuningan, Wikipedia

Keunggulan

Prestasi dan Penghargaan

PENGHARGAAN TAHUN 2015

  1. Bupati Kuningan Hj. Utje Ch Suganda, S.Sos, M.AP meraih Kartini Award dari Radar Cirebon 21 April 2015, apresiasi tersebut diberikan atas kepeduliannya terhadap kaum perempuan di Kabupaten Kuningan.
  2. Proses audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara akhirnya menempatkan Kabupaten Kuningan sebagai suatu badan publik yang mampu menyajikan sistem pengelolaan keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga berhak mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Hal tersebut ditandai dengan diterimanya Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2014 dengan predikat WTP yang diserahkan oleh Kepala BPK Perwakilan Provinsi Jawa Barat, Ir. Cornell S. Prawiradiningrat, MM, kepada Bupati Kuningan Hj. Utje Ch Suganda, S.Sos, M.AP, Senin 1 Juni 2015 di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Jawa Barat, Jalan Moch. Toha No. 164, Bandung.
  3. Kabupaten Kuningan Meraih Penghargaan Kabupaten Layak Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI atas upaya dan komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan terhadap perlindungan perempuan dan anak. Selasa 11 Agustus 2015 diserahkan Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor pada acara puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN).
  4. Kabupaten Kuningan meraih penghargaan di bidang Hukum dan HAM berupa Anubhawa Sasana Desa/Kelurahan Sadar Hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada 19 Agustus 2015, penghargaan tersebut diberikan Kepada Bupati Kuningan Hj. Utje Ch Suganda, S.Sos, M.AP, atas jasa-jasa nya membina dan mengembangkan Desa/Kelurahan sebanyak 70 Desa/Kelurahan se-Kabupaten Kuningan.

PENGHARGAAN TAHUN 2014

  1. Penghargaan Swasti Sabha Wiwerda dari Gubernur Jawa Barat, sebagai Kabupaten Sehat.
  2. Penghargaan Pangripta Nusantara dari Gubernur Jawa Barat, dalam bidang perencanaan pembangunan.
  3. Anugerah Parahita Ekapraya Tingkat Pratama Nasional dari Presiden RI, sebagai kabupaten yang mengusung pengarusutamaan gender
  4. Anugerah Amal Bhakti dalam bidang pendidikan agama;
  5. Penghargaan Anubhawa Sasana Desa atau Desa Sadar Hukum dari Menteri Hukum dan HAM RI dalam bidang kesadaran hukum;
  6. PMI Kabupaten/Kota yang berfungsi baik di Provinsi Jawa Barat.

PENGHARGAAN TAHUN 2013

  1. Pengahargaan Adipura kategori kota kecil dari Presiden RI
  2. Penghargaan PNPM Mandiri dari Presiden RI
  3. UNIKU AWARD 2013 Dari Universitas Kuningan

PENGHARGAAN TAHUN 2012

  1. Penghargaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Kuningan  atas Komitmen dan Peran Aktifnya Dalam Mewujudkan Pembangunan Kebun Raya Kuningan  dan pencapaian Kabupaten Kuningan dalam berbagai program pembangunan khususnya sebagai kabupaten yang memiliki  concern yang tinggi terhadap pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Diberikan di Hotel Grage pada hari selasa tanggal  14 Februari 2012.
  2. Hj. Utje Ch Suganda dianugrahi penghargaan KARTINI AWARD 2012 versi group Jawa Pos yang hari ini akan diserahkan di Graha Pena Radar Cirebon.
  3. Pengahargaan kepada para penyandang cacat atau anak berkebutuhan khusus berbuah penghargaan dari Ikatan Guru Pendidikan Luar Biasa ( IGPLB ) Jawa Barat diserahkan padaSabtu 5 Mei 2012 bertempat di Metro Mall jalan Soekarno Hatta Bandung.
  4. Penghargaan P2BN (Program Peningkatan Beras Nasional) dari Presiden Republik Indonesia.
  5. Anugerah Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan Terbaik

PENGHARGAAN TAHUN 2011

  1. Penghargaan Raskin Award 2010 kepada Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda, S.Sos., dari Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang diserahkan oleh Gubernur Jawa Barat H. Ahmad Heryawan di Halaman Gedung Sate Senin 31 Januari 2011.
  2. Penghargaan kepada Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda  dari Kanwil Kemendag Prov. Jawa Barat atas perhatian, bantuan dan kerjasama dalam meningkatkan pendidikan kegamaan melalui PERDA/PERBUB tentang pendidikan keagamaan.
  3. Mendiknas RI memberikan sertifikat SLB Negeri Taruna Mandiri sebagai SLBN bertaraf internasional
  4. PENGHARGAAN INOVASI MANAJEMEN PERKOTAAN (IMP AWARD) 2010, selasa (22/2) dari Kementrian Dalam Negeri
  5. Dengan keberhasilan pengumpulan zakat maal dan zakat profesi yang memenuhi target serta dapat dikategorikan pendayagunaan pada tanggal 20 maret 2011 BAZ Kabupaten Kuningan mendapatkan anugerah ÔÇ£Zakat Award 2011ÔÇØ tingkat nasional.
  6. Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun ini dinilai terbaik se Jawa Barat dan masuk 20 besar tingkat nasional dengan angka 0,656839. Keberhasilan ini buah hasil kerja keras jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) serta Puskesmas se Kuningan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
  7. Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda menerima penghargaan Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan pada Selasa (7/6) di Istana Negara Jakarta dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
  8. Bupati Peduli Lansia (lanjut usia) yang diberikan pada peringatan Hari Lanjut Usia Nasional Tingkat Jawa Barat di Gedung Sate Bandung dari Gubernur Jawa Barat.
  9. Bupati Kuningan meraih penghargaan  kehormatan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden RI dan penghargaan tersebut diserahkan pada kegiatan pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) ke XIII Tahun 2011 di Kutai Kartanegara Kaltim.
  10. Penghargaan Indonesia Green Region Award (IGRA) dari majalah Swa dan Radio KBR68H di Jakarta, 21 September 2011.
  11. Anugrah Pengembangan Kota Hijau dari Kementrian Pekerjaan Umum Republik Indonesia.
  12. Penghargaan Swasti Saba (kabupaten Sehat) dari Menteri Kesehatan RI
  13. Penghargaan Raksa Prasadha Berkat komitmen kuat terhadap pemeliharaan lingkungan yang meliputi upaya-upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dari pemerintah Provinsi Jawa Barat.
  14. Penghargaan Satyalancana Kebhaktian Sosial kepada Hj.Utje Ch Suganda dari Presiden Republik Indonesia. Penghargaan ini diberikan atas jasa dalam bidang sosial.

PENGHARGAAN TAHUN 2010

  1. PGM Awards dari Persatuan Guru Madrasyah Provinsi Jawa Barat kepada Bupati Kuningan diserahkan pada HAB Depag, 4 Januari 2010
  2. Penghargaan dari Provinsi Jawa Barat sebagai juara pertama kategori pemungutan dan pengelolaan  administrasi PBB
  3. Penghargaan Adipura dari presiden  ke 3 kalinya secara berturut-turut

    Ket :  Sudah ketiga kalinya Bupati Kabupaten Kuningan H. Aang Hamid Suganda. S. Sos, menerima pengharagaan Adipura dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono secara berturut-turut di Istana Negara Jakarta, Selasa (8/6). Bersamaan dengan itu pula Kepala Sekolah SMPN 1 Luragung Kabupaten Kuningan Drs. H. Ebon Shobari, M.Pd juga menerima penghargaan Adiwiyata Mandiri yang merupakan penghargaan tertinggi dalam penataan lingkungan sekolah.

  4. Penghargaan dari Gubenur JawaBarat Sebagai Bupati Peduli Lingkungan
  5. Penghargaan Car Free Day

    Ket: Mendapat Apresiasi dari Gubernur Jawa Barat melalui Surat Nomor 660.1/2197/OPSHS tanggal 31 Mei 2010 perihal Pemberian Penghargaan dan Apresiasi terhadap Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda yang telah berinisiatif untuk melaksanakan Kegiatan Car Free Day, secara konsisten dan berkelanjuta yang dapat mendukung upaya pencapaian Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) 2013 dibidang lingkungan hidup dan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain untuk melakukan hal yang sama

  6. Penghargaan terhadap Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan Hj. Utje Ch Suganda dari gubenur Jawa Barat  tentang Kepedulian terhadap Lansia.
  7. Paramadhana Madya Koperasi sebagai kabupaten Koperasi Penggerak koperasi tahun 2010 dari kementrian Koperasi, Usaha kecil dan Menengah RI

    Ket: Keberhasilan perkoperasian di Kabupaten Kuningan  berbuah pengharagaan dengan diraihnya Paramadhana Madya Koperasi sebagai Kabupaten penggerak Koperasi, dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Dr. Sjarifudin Hasan, MM., MBA., yang diterima langsung Wakil Bupati Kuningan H. Momon Rochmana di Gedung SMESÔÇÖCO, Jakarta Rabu (28/7). Penghargaan ini diberikan kepada 44 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sementara  untuk Jabar hanya Kuningan yang meraih penghargaan sekaligus yang pertama dalam bidang perkoperasian.

  8. Penghargaan Kadin Jabar Award 2010 yang diserahkan oleh menteri Perindustrian dan Perdagangan RI : Ms. Hidyat.  Nomor : SKEP/KU/XI/2010 Tentang Penghargaan Kepada para kepala daerah Bupati dan Wali Kota oleh Kadin Jawa Barat.yang telah membina dan meningkatkan peran serta para pelaku usaha anggota Kadin.
  9. Trophy dan Piagam Raksaniyata merupakan penghargaan dari Pemerintah dalam Program Menuju Indonesia Hijau sebagai bentuk apresiasi Pemerintah kepada Pemerintah Kabupaten atas kinerjanya dalam penaatan peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam dan pengendalian kerusakan lingkungan.
  10. Meraih Penghargaan P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional) di atas 5% dari Presiden RI tanggal 1 Desember 2010.
  11. Hj. Utje Ch. Suganda  mendapatkan piagam penghargaan atas perhatian, jasa dan karyanya terhadap upaya peningkatan taraf hidup dan martabat para penyandang cacat di Kabupaten Kuningan. Penghargaan ini diberikan berdasarkan Keputusan Gubernur Jabar No.002/Kep.1691-BKD/2010.

PENGHARGAAN TAHUN 2009

  1. Penghargaan KUA terbaik Tingkat Provinsi  Jawa Barat dari Kantor Wilayah Departemen Agama Jawa Barat  diraih oleh KUA Lebakwangi  kecamatan Lebakwangi
  2. Penghargaan Adipura  untuk ke 2 kalinya berturut turut dari Presiden RI pada Juni 2009
  3. Penghargaan Adiwiyata dari Presiden Republik Indonesia untuk SMAN 1 Mandirancan, SMPN 1 Luragung dan SMPN 2 Pasawahan
  4. Kabupaten Kuningan dianugerahi Penghargaan Kabupaten Terbaik Dalam Pemungutan dan Pengelolaan Administrasi PBB 2008 dari Gubenur Jawa Barat.
  5. Penghargaan Bhakti Koperasi dan UKM dari Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia pada bulan Juli 2009
  6. Penghargaan Puskesmas Teladan Tk. Jawa Barat Diraih Oleh Puskesmas Kecmatan Garawangi
  7. Penghargaan Kepada Bupati Kuningan dari Gubenur Jawa Barat sebagai Penggerak Percepatan Buta Aksara serta Percepatan Pengalokasian Anggaran PNF-I .
  8. Satya Lencana Bidang Pelestarian Lingkungan diraih oleh LSM AKAR Kuningan, diberikan langsung oleh Presiden RI.
  9. Penghargaan PDAM  Perpamsi Awards 2009 dari Kementrian PU. Penghargaan terhadap Kabupaten yang peduli pada peningkatan pelayanan air bersih pada masyarakat.
  10. Penghargaan juara I Nasional Lomba Cerdas Cermat Remaja diraih oleh PIK KRR Kabupaten Kuningan.
  11. Raskin Awards. Diberikan oleh Menko Kesra RI H. Agung Laksono. Raskin Awards merupakan Penghargaan terhadap Kabupaten yang berhasil dalam penyaluran  beras raskin dan kelancaran pembayaran tanpa tunggakan
  12. Person Of the Year dari HU Radar Cirebon untuk yang ke 3 kepada Bupati  Kuningan H. Aang Hamid Suganda.

PENGHARGAAN TAHUN 2008

  1. Bapak Otomotif  Kuningan  dari  Paguyuban  Otomotif Kuningan (Patok). Pada Bulan  Januari 2008.
  2. Person of the year dari Radar Cirebon tahun 2007
  3. Meraih Penghargaan  ADIPURA pada peringkat  pertama   yang  diberikan  langsung  oleh Presiden RI  kepada Bupati  Kuningan. Pada tanggal 6 Juni 2008. Atas keberhasilan dalam mewujudkan  tata pemerintahan  yang  baik (good government) dan lingkungan  hidup yang baik (good environment).
  4. Anugrah  Adiwiyata  Utama oleh  SMAN  1 Mandirancan  dan SMPN 1 Luragung
  5. Meraih Penghargaan  Satyalancana Wirakarya dari Presiden RI atas keberhasilan di bidang Keluarga Berencana 23 Juni 2008.
  6. Penghargaan Lencana Jasa Utama dari PMI Pusat pada 21 Juli 2008.
  7. Pemenang 1 Lomba Desa tingkat Propinsi Jawa Barat diwakili Desa Panawuan.
  8. Meraih Penghargaan Anugerah Aksara Utama atas upaya pemberantasan Buta Huruf di Kabupaten Kuningan.
  9. H. Aang Hamid Suganda Selaku ketua Majelis Pembina Cabang (mobicab) Pramuka Kabupaten Kuningan berhasil meraih penghargaan dari Kwartir Nasional berupa Lencana Melati No. 903/2008 yang disematkan pada hari kemerdekaan ke-63 RI di Jakarta.
  10. Meraih Penghargaan Raksaniyata Menuju Indonesia Hijau dari Kementrian Lingkungan Hidup RI
  11. Meraih Penghargaan P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional) di atas 5% dari Presiden RI
  12. Person of The Year 2008 dari Harian Radar Cirebon untuk yang ke-dua kalinya bagi Bupati H. Aang Hamid Suganda

PENGHARGAAN TAHUN 2007

  1. Desa Lingkungan  Bersih  dan Sehat  Terbaik  I tingkat  Propinsi  Jawa Barat  diwakili  Desa Peusing, Kacamatan  Jalaksana.
  2. Anugrah  Adiwiyata  Utama oleh  SMAN  1 Mandirancan  dan  Anugrah  Calon  Model  Adiwiyata Utama oleh  SMPN 1 Luragung
  3. Penghargaan  Pakarti  Utama  pelaksanaan  terbaik  2 tingkat  Nasional  Desa lingkungan  bersih  dan sehat, diwakili  Desa Peusing  Kecamatan  Jalaksana.
  4. Penghargaan sebagai Kabupaten Tercepat Pelunasan PBB Peringkat II se- Propinsi Jawa Barat tahun 2006 diberikan pada 4 April 2007
  5. Penganugrahan  Bintang Satya Lencana  Pembangunan  Pertanian  oleh  Presiden RI  kepada Bupati Kuningan. Penghargaan  diberikan  Presiden  RI  atas keberhasilan  dalam  melaksanakan  Intensifikasi  Budidaya Ternak  Domba dan Sapi. Sehingga  produktifitas meningkat  tajam. Bulan Juli  2007.
  6. Penghargaan  Pekerjaan Umum dari  Menteri PU sebagai  Kabupaten  yang  berhasil  melaksanakan pembangunan dan  jembatan  jalan pada 3 Desember 2007.
  7. Penghargaan  Pekerjaan Umum dari  Menteri PU sebagai  Kabupaten  yang berhasil  melaksanakan pengelolaan irigasi terbaik.
  8. Penghargaan  dari  Gubernur  Jawa Barat  sebagai  Kepala Daerah  yang  menerapkan Pelayanan Perizinan  1 pintu.
  9. Penghargaan  kepada BPP  Cilimus  sebagai  Unit  yang  memberikan  pelayanan terbaik  di Lingkungan  Pertanian/Peternakan  se Jawa Barat.
  10. Penghargaan  dari Gubernur Jawa Barat  sebagai  pemenang  Wajardikdas  Award Cluster  B dan Vocational.
  11. Penghargaan Anugerah Aksara Tingkat Madya dari Menteri Pendidikan Nasional dalam upaya percepatan pemberantasan buta huruf di Kabupaten Kuningan dalam rangka peringatan Hari Aksara pada 8 September 2007.
  12. Kursus Lemhanas (peserta Forum Konsolidasi Pimpinan Pemerintahan Daerah Bupati, Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten/Kota) tahun 2007.
  13. Penghargaan Bintang LVRI dari DPP LVRI pada 31 Desember 2007
  14. Tokoh  Otomotif Jabar  dari  Pengda  Ikatan  Motor Indonesia Jabar. Pada 27 Desember 2007.

PENGHARGAAN TAHUN 2006

  1. Bupati Kuningan menerima penghargaan  sebagai  Pembina Peduli  Kehutanan  Terbaik  Pertama Tingkat Propinsi  Jawa Barat tahun 2006 dari Gubernur Jawa Barat diserahkan saat peringatan Hari Krida Pertanian di Blanakan Subang pada 14 Juli 2006.
  2. Penghargaan dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan sebagai salah satu kabupaten di Indonesia yang memberikan perhatian terhadap anak  dengan mengeluarkan Perda Pembebasan Akte Lahir Anak. Pada tanggal 23 Juli  2006.
  3. Penghargaan dari Presiden RI sebagai salah satu kabupaten di Indonesia yang memberikan perhatian terhadap anak  dengan mengeluarkan Perda Pembebasan  Akte Lahir Anak diserahkan pada puncak Peringatan Hari Anak Nasional di TMII Jakarta. Pada tanggal  23 Juli  2006.
  4. Penghargaan Anugerah Aksara Tingkat Pratama dari Menteri Pendidikan Nasional dalam upaya percepatan pemberantasan buta huruf di Kabupaten Kuningan dalam rangka peringatan Hari Aksara pada 9 September 2006.
  5. Penghargaan Manggala Karya Kencana dari BKKBN Pusat diserahkan Senin, 28 Agustus 2006 di Jakarta.
  6. Desa Sehat juara ke- III tingkat nasional  diwakili oleh Desa Sembawa Kec. Jalaksana.
  7. SMPN I Luragung   sebagai  Sekolah Sehat terbaik Tingkat Propinsi Jawa Barat dan Kategori Terbaik Tingkat Nasional
  8. PPK ÔÇô IPM  mendapat dana sebesar 20 Miliar untuk satu tahun  selama 2 tahun
  9. Penghargaan Siaga Award dari Gubernur Jawa Barat untuk Kabupaten Kuningan.
  10. Piagam Penghargaan dari Menteri Kehutanan RI sebagai Bupati Terbaik I Tingkat Nasional Peduli Kehutanan, pada tanggal  6 Desember 2006.
  11. Penghargaan dari Wakil Presiden RI sebagai kabupaten terbaik dalam pelaksanaan GRLK diserahkan di Mataram, NTB.
  12. Penghargaan  sebagai desa  lingkungan  bersih  dan sehat   terbaik  I tingkat  Propinsi  Jawa Barat diwakili  Desa Peusing

PENGHARGAAN TAHUN 2005

  1. Pemberian Anugerah Kepemudaan Tahun 2005 tingkat Nasional ini dilaksanakan bersamaan dengan Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-77 bertempat di Gedung Pemuda Jalan Kramat Jakarta diserahkan langsung oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia H. Adhyaksa Dault. Pada tanggal 28 Oktober  2005.
  2. Penghargaan dari ASEAN atas keberhasilan sebagai Kepala Daerah yang memberikan kontribusi berharga dalam mempromosikan pembangunan pemuda sebagai satu aspek dari agenda pembangunandaerah, yang sejalan dengan Deklarasi Manila dalam hal penguatan partisipasi pemuda dalam lapangan kerja berkelanjutan. Diberikan oleh Secretary ÔÇô General of ASEAN di Jakarta, pada tanggal 28 Oktober 2005 dalam peringatan Sumpah Pemuda tingkat nasional
  3. Penghargaan dari PBB atas keberhasilan mempromosikan Program Aksi Dunia PBB untuk Pemuda di tingkat daerah dari Director Division for Social Policy and Development United Nations pada 28 Oktober 2005 di Jakarta.
  4. Penghargaan sebagai Kabupaten Tercepat Pelunasan PBB se- Propinsi Jawa Barat tahun 2005 diberikan pada 23 Februari 2006

PENGHARGAAN TAHUN 2004

  1. Piagam Penghargaan Gubernur Sumatera Selatan dalam rangka PON XVI sebagai manager Bola Basket Jawa Barat, pada tanggal  14 September 2004.
  2. Piagam Penghargaan dari KONI Jabar sebagai Tim Manager Cabang Olahraga Basket dalam PON XVI di Sumatera Selatan. Pada tanggal 15 September 2004
  3. Tanda penghargaan Lencana Darma Bakti dari Ketua Kwartir Nasional gerakan Pramuka pada  Bulan Juli 2005.
  4. Piagam Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan 45 dari Dewan Harian Nasional Angkatan 45 atas peran serta pengabdiannya sebagai Ketua Dewan Harian Cabang 45 Kabupaten Kuningan dalam upaya melestarikan jiwa, semangat, dan nilai-nilai 45. Pada tanggal 17 Agustus 2004.

Projek Investasi

Data Wilayah

Perizinan & Pembiayaan

Profil Badan Pelayanan Perizinan Terpadu(BPPT)

Visi dan Misi

Visi Badan Pelayanan Perizinan Terpadu(BPPT) Kabupaten Kuningan adalah:

”Terwujudnya Pelayanan Perizinan dan Penanaman Modal Yang Prima Sesuai Dengan Keinginan dan Harapan Konsumen”.

Untuk mewujudkan Visi tersebut Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Kuningan mengemban Misi sebagai berikut :

  1. Meningkatkan standar dan mutu pelayanan perizinan dan penanaman modal dalam upaya mendorong dan menumbuh kembangkan kegiatan masyarakat yang efektif, efisien dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan masa depan.
  2. Meningkatkan kesadaran dan ketaatan masyarakat untuk memiliki perizinan sesuai dengan peraturan dan perundang–undangan yang berlaku.
  3. Menciptakan tertib administrasi dan tertib pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat dan pemerintah sebagai acuan dasar dalam pengambilan kebijakan pembangunan.
  4. Meningkatan penanaman Modal Daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat untuk mewujudkan peningkatkan pembangunan daerah.
  5. Melakukan penelitian dan pengkajian potensi peluang investasi daerah secara berkelanjutan guna mewujudkan kerjasama dengan investor dan membuka peluang bagi semua pihak dengan memperhatikan potensi perkembangan perekonomian rakyat.

Sejarah

Kantor Pelayanan Perizinan (KPP) Kabupaten Kuningan dibentuk melalui Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2006 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pelayanan Perizinan Kabupaten Kuningan dan Peraturan Bupati Kuningan Nomor : 01 Tahun 2007 tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Di Bidang Perizinan maupun Non Perizinan Kepada Kepala Kantor Pelayanan Perizinan (KPP) Kabupaten Kuningan.

Namun seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan para pelaku usaha akan hak dan kewajibannya terutama dalam memperoleh izin, maka melalui Peruturan Bupati Kuningan Nomor : 13 Tahun 2009 Tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Di Bidang Perizinan maupun Non Perizinan Kepada Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Kuningan, Kepala Kantor Pelayanan Perizinan (KPP) telah menjadi Badan Pelayanan perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Kuningan.

Dengan berubahan kantor menjadi badan maka PPTSP di Kabupaten Kuningan dipimpin oleh 1 (satu) orang Kepala Badan, 1 (satu) orang Sekretaris Badan, 3 (tiga) orang Kepala Bidang, 4 (empat) orang Kepala Sub Bagian dan 4 (empat) orang Kepala Sub Bidang serta 37 orang pelaksana.

Mekanisme  Perizinan

mekanisme_perijinan

Statistik

grafik kuningan

Sumber: BPPT Kabupaten Kuningan