Kabupaten Ciamis

1296 Hits

Profil

Berkas:Lambang kabupaten ciamis.gifKabupaten Ciamis, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Ciamis Kota. Kabupaten ini berada di bagian tenggara Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan di utara, Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah) dan Kota Banjar di timur, Kabupaten Pangandaran dan Samudra Hindia di selatan, serta Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya di barat.

Kabupaten Ciamis terdiri atas 30 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Ciamis.

Kecamatan Banjar, yang dulunya bagian dari Kabupaten Ciamis, ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif, dan sejak tanggal 11 Desember 2002 ditetapkan menjadi kota (otonom), yang terpisah dari Kabupaten Ciamis. selain itu bagian Selatan Kabupaten Ciamis mengalami pemekaran pada tanggal 25 Oktober 2012 menjadi Kabupaten Pangandaran yang memiliki 10 Kecamatan.

Sejarah

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh”, berasal dari kata “sakaloh” berarti “dari sungai asalnya”, dan dalam lidah Banyumas menjadi “segaluh”. Dalam Bahasa Sansekerta, kata “galuh” menunjukkan sejenis batu permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.

Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ‘Ng Karesian, ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut:

Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?);

  1. Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan;
  2. Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan;
  3. Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan;
  4. Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman;
  5. Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan;
  6. Galuh Tanduran atau Pangauban berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo;
  7. Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan;
  8. Galuh Pakuan beribukota di Kawali;
  9. Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan;
  10. Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka;
  11. Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung;
  12. Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).

Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama “Galuh”, meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Dyah Balitung disebut sebagai “Rakai Galuh”. Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943 M, disebutkan bahwa “kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh” (Prasasti Anjuk Ladang) menunjuk sebuah tempat di Watugaluh, dan Megaluh, Jawa Timur. Kemudian dalam sebuah Piagam Calcutta disebutkan bahwa para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan Barat, mereka dimusnahkan pada tahun 1031 Masehi. Dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dan dalam Kitab Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat bernama “Hujung Galuh” yang terletak di tepi sungai Brantas. Nama Galuh sebagai ibukota disebut berkali-kali dalam naskah sebuah prasasti berangka tahun 732, ditemukan di halaman Percandian Gunung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang).

Pada bagian carita Parahyangan, disebutkan bahwa Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357) berkedudukan di Kawali sebagai penguasa Kerajaan Sunda Galuh. Setelah menjadi raja selama tujuh tahun, pergi ke Jawa terjadilah perang di Majapahit. Dari sumber lain diketahui bahwa Prabu Hayam Wuruk, yang baru naik tahta pada tahun 1350, meminta Puteri Prabu Maharaja Linggabuanawisésa untuk menjadi isterinya. Hanya saja, konon, Patih Gajah Mada menghendaki Puteri itu menjadi upeti. Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit ini dan memilih berperang hingga gugur dalam peperangan di Bubat. Puteranya yang bernama Prabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475) waktu itu masih kecil. Oleh karena itu kerajaan dipegang Hyang Bunisora (1357-1371) beberapa waktu sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu Kancana ketika sudah dewasa. Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat diperjelas dengan bukti berupa Prasasti Kawali dan Prasasti Batutulis serta Kebantenan.

Saat Wastu Kancana wafat, kerajaan sempat kembali terpecah dua dalam pemerintahan anak-anaknya, yaitu Prabu Susuk Tunggal yang berkuasa di Pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala yang berkuasa di Kawali (Galuh). Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang merupakan anak Prabu Dewa Niskala, putra Prabu Niskala Wastu Kancana sekaligus menantu Prabu Susuk Tunggal menyatukan kembali Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Setelah runtuhnya Sunda Galuh oleh Kesultanan Banten, bekas kerajaan ini banyak disebut sebagai Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Invasi Mataram ke Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dan cacah sebanyak 960 orang. Ketika Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, massa Mataram di Priangan bersilang pendapat. Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya, menginginkan pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar Ukur, menginginkan serangan segera dilakukan. Pertentangan terjadi juga di Galuh antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya Dipati Kertabumi, Bupati di Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam perselisihan tersebut Adipati Panaekan terbunuh tahun 1625. Ia kemudian diganti puteranya Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (Cineam sekarang).

Pada masa Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (Cineam) ke Calingcing. Tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanagara (Panyingkiran). Pada Tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat VOC sebagai Bupati Galuh menggantikan Angganaya. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh Kusumadinata I (1706-1727).

Kangjeng Prabu. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan bupati Galuh yang keenambelas ini paling ternama R.A.A. Kusumadiningrat menjadi Bupati Galuh Ciamis (1839-1886). Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin. Pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, disamping dipaksa menanam kopi juga menanam nila. Untuk meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A. Kusumadiningrat yang dikenal sebagai “Kangjeng Perbu” oleh rakyatnya, membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun 1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga. Antara tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu Raden Adipati Aria Kusumasubrata. Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis.

Topografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Ciamis berupa pegunungan dan dataran tinggi, kecuali di perbatasan dengan Jawa Tengah bagian selatan, serta sebagian wilayah pesisir. Pantai selatan Ciamis bagian timur berupa teluk, di antaranya Teluk Pangandaran, Teluk Parigi, dan Teluk Pananjung. Pantai Pangandaran merupakan salah satu tujuan wisata utama di Kabupaten Ciamis.

Transportasi

Ibu kota kabupaten Ciamis berada di jalan Lintas jalur (Bandung-Yogyakarta-Surabaya). Kabupaten ini juga dilintasi jalur kereta api lintas selatan, dengan stasiun terbesarnya di Ciamis. Di bagian selatan Kabupaten terdapat sebuah lapangan terbang perintis, dinamai Nusawiru, tadinya ditujukan untuk membuka lebar peluang pariwisata (Pangandaran dan sekitarnya) dan investasi di pesisir selatan. Namun kini terkesan kurang dirawat.

Komunikasi dan telekomunikasi

Pelayanan antar-kirim surat, barang, dan titipan dana dapat dilakukan melalui Kantor Pos di tiap-tiap kecamatan.

Sambungan telepon-tetap telah menjangkau hampir setiap desa/kelurahan di Kabupaten ini, kecuali di areal pegunungan yang masih belum diinstalasi.

Untuk kepentingan telekomunikasi bergerak, di pusat kabupaten, semua operator selular GSM nasional dan beberapa operator CDMA telah dapat dimanfaatkan dengan cukup baik, juga di beberapa kecamatan sekitarnya. Sementara kecamatan-kecamatan lainnya baru dijangkau operator GSM.

Di beberapa kecamatan, Internet telah dapat diakses melalui sambungan telepon-tetap. Adopsi internet oleh masyarakat Ciamis cukup tinggi, yang juga dipengaruhi oleh lahirnya beberapa media online di Priangan Timur, seperti misalnya media online Warta Priangan yang memang berdomisili di Kabupaten Ciamis.

Kesehatan

Di tiap-tiap Kecamatan terdapat klinik Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), juga terdapat Praktik Dokter Swasta.

Di pusat Kabupaten terdapat Rumah Sakit Umum,Rumah Sakit Al-Arif, Rumah Sakit Permata Bunda, Rumah Sakit Nirmala dan Rumah Sakit Bersalin Harapan Bunda selain itu untuk mereka yang lebih dekat ke Kota Banjar dapat mengakses Rumah Sakit Umum Banjar (di Kota Banjar), atau dapat pula ke beberapa Rumah Sakit Umum di Kota Tasikmalaya.

Wisata

Objek wisata yang ditawarkan di Kabupaten Ciamis adalah Ngarai Hijau (Green Canyon), Pantai Batu Karas, Pantai Madasari, Lembah Putri, Pantai Karapyak, Karang Nini, Pantai Batu Hiu, Pantai Pangandaran, Citumang, Situ Lengkong, Situs Karangkamulyan (Ciung Wanara ). Sedangkan, beragam makanan khas ditawarkan seperti Sale Pisang, Galendo, Gula Merah, dan Abon Ikan Patin.

Media Massa

Ada beberapa media massa lokal yang beredar di Kabupaten Ciamis, baik dalam bentuk media cetak, elektronik maupun internet (media online). Beberapa media cetak lokal yang beredar di Ciamis antara lain Kabar Priangan (Grup Pikiran Rakyat) dan Radar Ciamis (Grup Jawa Pos). Selain kedua koran tersebut ada juga beberapa tabloid terbitan lokal, misalnya saja Tabloid Pendidikan Ganesha yang dikelola oleh PGRI Kabupaten Ciamis.

Sementara untuk media elektronik, ada beberapa stasiun radio yang mengudara di Kabupaten Ciamis, diantaranya: Radio Pitaloka FM, MG FM, Piss FM, Kartika FM dan Tagati FM. Untuk media online, Ciamis memiliki Warta Priangan, media online yang beralamat domain di www.wartapriangan.com.

Pendidikan

Daftar perguruan tinggi di Ciamis:

  1. Universitas Galuh Ciamis (Unigal) Ciamis. Universitas ini berada di tepatnya di Jalan R. E. Martadinata nomor 150 Ciamis 46251, Jawa Barat. Universitas ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Galuh Ciamis. Link internet: http://www.unigal.ac.id/.
  2. Institut Agama Islam Darussalam Ciamis atau IAID Ciamis. Kampus berlokasi di Pesantren Darussalam Kotak Pos 02 Ciamis Jawa Barat 46271. Link internet: https://iaid.ac.id/.

Sumber: Situs Kabupaten Ciamis, Wikipedia

Keunggulan

CIAMIS,(PRLM).- Tahun 2015 tatar Galuh Ciamis panen prestasi tingkat nasional. Selain mendapatkan Adipura, Ciamis juga berhasil menyebet penghargaan dalam bidang kinerja pemerintahan, hak asasi manusia, pengelolaan anggaran keuangan hingga pengelolaan sistem trasportasi kota.

"Kami tahun 2015 panen penghargaan tingkat pusat. Minggu ini saja harus tiga kali ke Jakarta memerima penghargaan. Salah satunya yang penghargaan terkait HAM. Kami menilai penghargaan itu merupakan dorongan serta pemicu ke depan bekerja lebih baik lagi," tutur Bupati Ciamis, Iing Syam Arifien, Selasa (22/12/2015).

Dia mengatakanitu usai peringatan Hari Ibu, yang disatukan dengan Hari Pangan, Hari Nusantara, Hari Bela Negara, Hari Disabilitas Internasional dan Hari Kesetiakawanan Sosial, yang digelar Taman Rafllesia. Penghargaan lainnya terkait dengan penanganan hak asasi manusia, Bina Keluarga Bahagia, penghargaan dari Apdesi dan lainnya.

"Tahun 2015 Ciamis mendapat WTN untuk ke delapan kalinya. Hal itu tentunya juga menjadi kebanggan tersendiri bagi warga tatar galuh Ciamis dalam penataan lalulintas, berikut sumber daya manusia, dan kelengkapan sarana prasarana," jelasnya.

Iing Syam Arifien menambahkan bahwa memertahankan penghargaan yang telah diraih, lebih sulit dibandingkan saat pertama kali menerima. Alasannya karena ke depan beban lebih berat, karena prestasi harus lebih baik dibandingkan sekarang.

"Kami optimis mendatang prestasi Ciamis bakal lebih banyak. Kunci keberhasilan itu tidak hanya hasil kerja keras aparatur pemerintah, akan tetapi berkat dukungan semua lapisan masyarakat. Semua pihak saling terkait, dan saling tergantung satu dengan lainnya," katanya.(Nurhandoko Wiyoso/A-108). Baca selengkapnya di sini...

Data Wilayah

Perizinan & Pembiayaan

Profil BPPT dan PM Kabupaten Ciamis

Visi dan Misi