Kabupaten Bandung

861 Hits

Profil

Lambang Kabupaten BandungKabupaten Bandung adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya adalah Soreang.

Batas wilayah

Utara Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang
Selatan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur
Barat Kabupaten Bandung Barat
Timur Kabupaten Garut

Topografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung adalah pegunungan. Di antara puncak-puncaknya adalah: Sebelah utara terdapat Gunung Bukit Tunggul (2.200 m), Gunung Tangkubanperahu (2.076 m) di perbatasan dengan Kabupaten Purwakarta. (keduanya kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat). Sedangkan di selatan terdapat Gunung Patuha (2.334 m), Gunung Malabar (2.321 m), serta Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), semuanya di perbatasan dengan Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur. Sedangkan wilayah utara (perbatasan denganKota Bandung) adalah dataran rendah yang sering menjadi daerah langganan banjir, terdapat di kecamatan Dayeuhkolot,Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek dan Cileunyi.

Sejarah

Kabupaten Bandung lahir melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada tanggal 9 bulan Muharram tahun Alif atau sama dengan hari sabtu tanggal 20 April 1641 Masehi. Bupati pertamanya adalah Tumenggung Wiraangunangun (1641-1681 M). Dari bukti sejarah tersebut ditetapkan bahwa 20 April sebagai Hari Jadi Kabupaten Bandung. Jabatan bupati kemudian digantikan oleh Tumenggung Nyili salah seorang putranya. Namun Nyili tidak lama memegang jabatan tersebut karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan bupati kemudian dilanjutkan oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) pada tahun 1681-1704.

Selanjutnya kedudukan Bupati Kabupaten Bandung dari R. Ardikusumah diserahkan kepada putranya R. Ardisuta yang diangkat tahun 1704 setelah Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pertemuan dengan para bupati se-Priangan di Cirebon. R. Ardisuta (1704-1747) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia sering disebut Dalem Gordah. sebagai penggantinya diangkat putra tertuanya Demang Hatapradja yang bergelar Anggadiredja II (1707-1747).

Pada masa Pemerintahan Anggadiredja III (1763-1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukkan Batulayang ke dalam pemerintahannya. Juga pada masa Pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II (1794-1829) inilah ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak (Dayeuhkolot) ke tepi sungai Cikapundung atau alun-alun Kota Bandung sekarang. Pemindahan ibu kota itu atas dasar perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels tanggal 25 Mei 1810, dengan alasan daerah baru tersebut dinilai akan memberikan prospek yang lebih baik terhadap perkembangan wilayah tersebut.

Setelah kepala pemerintahan dipegang oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874), ibu kota Kabupaten Bandung berkembang pesat dan dia dikenal sebagai bupati yang progresif. Dialah peletak dasar master plan Kabupaten Bandung, yang disebut Negorij Bandoeng. Tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Masjid Agung. Kemudian dia memprakarsai pembangunan Sekolah Raja (Pendidikan Guru) dan mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding School Voor Indische Ambtenaaren). Atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Bandung di segala bidang dia mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda berupa Bintang Jasa, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan Dalem Bintang.

Pada masa pemerintahan R. Adipati Kusumahdilaga, rel kereta api mulai dibangun, tepatnya tanggal 17 Mei 1884. Dengan masuknya rel kereta api ini ibu kota Bandung kian ramai. Penghuninya bukan hanya pribumi, bangsa Eropa, dan Cina pun mulai menetap di ibu kota, dampaknya perekonomian Kota Bandung semakin maju. Setelah wafat penggantinya diangkat R.A.A. Martanegara, bupati ini pun terkenal sebagai perencana kota yang jempolan. Martanegara juga dianggap mampu menggerakkan rakyatnya untuk berpartisipasi aktif dalam menata wilayah kumuh menjadi permukiman yang nyaman. Pada masa pemerintahan R.A.A. Martanegara (1893-1918) ini atau tepatnya pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gementee (Kotamadya).

Periode selanjutnya Bupati Bandung dijabat oleh Aria Wiranatakoesoema V (Dalem Haji) yang menjabat selama 2 periode, pertama tahun 1920-1931 sebagai bupati yang ke-12 dan berikutnya tahun 1935-1945 sebagai bupati yang ke-14. Pada periode tahun 1931-1935 R.T. Sumadipradja menjabat sebagai Bupati ke-13. Selanjutnya bupati ke-15 adalah R.T.E. Suriaputra (1945-1947) dan penggantinya adalah R.T.M. Wiranatakusumah VI alias Aom Male (1948-1956), kemudian diganti oleh R. Apandi Wiriadipura sebagai bupati ke-17 yang dijabatnya hanya 1 tahun (1956-1957).

Bupati berikutnya adalah Letkol. R. Memet Ardiwilaga (1960-1967). Kemudian pada masa transisi (Orde Lama ke Orde Baru) dilanjutkan oleh Kolonel Masturi. Pada masa Pimpinan Kolonel R.H. Lily Sumantri tercatat peristiwa penting yaitu rencana pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung yang semula berada di Kotamadya Bandung ke Wilayah Hukum Kabupaten Bandung, yaitu daerah Baleendah. Peletakan batu pertamanya pada tanggal 20 April 1974, yaitu pada saat Hari Jadi Kabupaten Bandung yang ke-333. Rencana pemindahan ibu kota tersebut berlanjut hingga jabatan bupati dipegang oleh Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980-1985).

Atas pertimbangan secara fisik geografis, daerah Baleendah tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai ibu kota kabupaten, maka ketika jabatan bupati dipegang oleh Kolonel H.D. Cherman Affendi (1985-1990), ibu kota Kabupaten Bandung pindah ke lokasi baru yaitu Kecamatan Soreang. Di tepi Jalan Raya Soreang, tepatnya di Desa Pamekaran inilah dibangun Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung seluas 24 hektare, dengan menampilkan arsitektur khas gaya Priangan. Pembangunan perkantoran yang belum rampung seluruhnya dilanjutkan oleh bupati berikutnya yaitu Kolonel H.U. Djatipermana, sehingga pembangunan tersebut memerlukan waktu sejak tahun 1990 hingga 1992.

Tanggal 5 Desember 2000, Kolonel H. Obar Sobarna, S.I.P. terpilih oleh DPRD Kabupaten Bandung menjadi Bupati Bandung dengan didampingi oleh Drs. H. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati. Sejak itu, Soreang betul-betul difungsikan menjadi pusat pemerintahan. Pada tahun 2003 semua aparat daerah, kecuali Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Kebersihan, Kantor BLKD, dan Kantor Diklat, sudah resmi berkantor di kompleks perkantoran Kabupaten Bandung. Pada periode pemerintahan Obar Sobarna, yang pertama dibangun adalah Stadion Olahraga, yakni Stadion Si Jalak Harupat. Stadion ini merupakan stadion bertaraf internasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Bandung. Selain itu, berdasarkan aspirasi masyarakat yang diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, Kota Administratif Cimahiberubah status menjadi kota otonom.

Tanggal 5 Desember 2005, Obar Sobarna menjabat Bupati Bandung untuk kali kedua didampingi oleh H. Yadi Srimulyadi sebagai wakil bupati, melalui proses pemilihan langsung. Pada masa pemerintahan yang kedua ini, berdasarkan dinamika masyarakat dan didukung oleh hasil penelitian dan pengkajian dari 5 perguruan tinggi, secara yuridis terbentuklah Kabupaten Bandung Barat bersamaan dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten Bandung Barat terletak di Kecamatan Ngamprah). Bupati Bandung Barat masa jabatan 2008-2013 adalah Abubakar.[3]

Daftar Bupati

Berikut daftar Daftar Bupati Bandung sejak Kepala Daerah Kabupaten Bandung dibentuk pada tanggal 20 April 1641 M melalui Piagam Sultan Agung dari Mataram. Bupati pertamanya Tumenggung Wiraangunangun (1641 – 1681 M) hingga yang menjabat sekarang H. Dadang M. Nasser, S.H.,S.IP., dan Wakilnya Gun Gun Gunawan, S.Si., M.Si. periode (2016 – 2021 M).

Pembagian administratif

Kabupaten Bandung terdiri atas 31 kecamatan, yang dibagi lagi menjadi 277 desa dan kelurahan (pascapemekaran). Pusat pemerintahan terletak di Kecamatan Soreang.

No. Kecamatan Desa/Kelurahan Jumlah
1 Arjasari Ancolmekar, Arjasari, Baros, Batukarut, Lebakwangi, Mangunjaya, Mekarjaya, Patrolsari, Pinggirsari, Rancakole, Wargaluyu 11
2 Baleendah Andir, Baleendah, Bojongmalaka, Jalekong, Malakasari, Manggahang, Rancamanyar, Wargamekar 8
3 Banjaran Banjaran Wetan, Banjaran, Ciapus, Kamasan, Kiangroke, Margahurip, Mekarjaya, Neglasari, Pasirmulya, Sindangpanon, Tarajusari 11
4 Bojongsoang Bojongsari, Bojongsoang, Buahbatu, Cipagalo, Lengkong, Tegalluar 6
5 Cangkuang Bandasari, Cangkuang, Ciluncat, Jatisari, Nagrak, Pananjung, Tanjungsari 7
6 Cicalengka Babakanpeuteuy, Cicalengka Kulon, Cicalengka Wetan, Cikuya, Dampit, Margaasih, Nagrog, Narawita, Panenjoan, Tanjungwangi, Tenjolaya,Waluya 12
7 Cikancung Cihanyir, Cikancung, Cikasungka, Ciluluk, Hegarmanah, Mandalasari, Mekarlaksana, Srirahayu, Tanjunglaya 9
8 Cilengkrang Cilengkrang, Cipanjalu, Ciporeat, Girimekar, Jatiendah, Melatiwangi 6
9 Cileunyi Cibiru Hilir, Cibiru Wetan, Cileunyi Kulon, Cileunyi Wetan, Cimekar, Cinunuk 6
10 Cimaung Campakamulya, Cikalong, Cimaung, Cipinang, Jagabaya, Malasari, Mekarsari, Pasirhuni, Sukamaju 9
11 Cimenyan Cibeunying, Ciburial, Cikadut, Cimenyan, Mandalamekar, Mekarmanik, Mekarsaluyu, Padasuka, Sindanglaya 9
12 Ciparay Babakan, Bumiwangi, Ciheulang, Cikoneng, Ciparay, Gunungleutik, Manggungharja, Mekar Laksana, Mekarsari, Pakutandang, Sarimahi,Serangmekar, Sigaracipta, Sumbersari 14
13 Ciwidey Ciwidey, Lebakmuncang, Nengkelan, Panundaan, Panyocokan, Rawabogo, Sukawening 7
14 Dayeuhkolot Cangkuang Kulon, Cangkuang Wetan, Citeureup, Dayeuhkolot, Pasawahan, Sukapura 6
15 Ibun Cibeet, Dukuh, Ibun, Karyalaksana, Laksana, Lampegan, Mekarwangi, Neglasari, Pangguh, Sudi, Talun, Tanggulun 12
16 Katapang Banyusari, Cilampeni, Gandasari, Katapang, Pangauban, Sangkanhurip, Sukamukti 7
17 Kertasari Cibeureum, Cihawuk, Cikembang, Neglawangi, Santosa, Sukapura, Tarumajaya 7
18 Kutawaringin Buninagara, Cibodas, Cilame, Gajahmekar, Jatisari, Jelegong, Kopo, Kutawaringin, Padasuka, Pameuntasan, Sukamulya 11
19 Majalaya Biru, Bojong, Majakerta, Majalaya, Majasetra, Neglasari, Padamulya, Padaulun, Sukamaju, Sukamukti, Wangisagara 11
20 Margaasih Cigondewah Hilir, Lagadar, Margaasih, Mekar Rahayu, Nanjung, Rahayu 6
21 Margahayu Margahayu Selatan, Margahayu Tengah, Sayati, Sukamenak, Sulaeman 5
22 Nagreg Bojong, Ciaro, Ciherang, Citaman, Mandalawangi, Nagreg 6
23 Pacet Cikawao, Cikitu, Cinanggela, Cipeujeuh, Girimulya, Mandalahaji, Maruyung, Mekarjaya, Mekarsari, Nagrak, Pangauban, Sukarame,Tanjungwangi 13
24 Pameungpeuk Bojongkunci, Bojongmanggu, Langonsari, Rancamulya, Rancatungku, Sukasari 6
25 Pangalengan Banjarsari, Lamajang, Margaluyu, Margamekar, Margamukti, Margamulya, Pangalengan, Pulosari, Sukaluyu, Sukamanah, Tribaktimulya,Wanasuka, Warnasari 13
26 Paseh Cigentur, Cijagra, Cipaku, Cipedes, Drawati, Karangtunggal, Loa, Mekarpawitan, Sindangsari, Sukamanah, Sukamantri, Tangsimekar 12
27 Pasirjambu Cibodas, Cikoneng, Cisondari, Cukanggenteng, Margamulya, Mekarmaju, Mekarsari, Pasirjambu, Sugihmukti, Tenjolaya 10
28 Rancabali Alamendah, Cipelah, Indragiri, Patengan, Sukaresmi 5
29 Rancaekek Bojongloa, Bojongsalam, Cangkuang, Haurpugur, Jelegong, Linggar, Nanjungmekar, Rancaekek Kulon, Rancaekek Wetan, Sangiang,Sukamanah, Sukamulya, Tegalsumedang, Rancaekek Kencana 14
30 Solokan Jeruk Bojongemas, Cibodas, Langensari, Padamukti, Panyadap, Rancakasumba, Solokan Jeruk 7
31 Soreang Cingcin, Karamatmulya, Pamekaran, Panyirapan, Parungserab, Sadu, Sekarwangi, Soreang, Sukajadi, Sukanagara 10
Total 277

Potensi wisata[sunting | sunting sumber]

  • Desa Wisata Ciburial di Kecamatan Cimenyan
  • Kampung Adat Cikondang, di Kecamatan Pangalengan
  • Situs Rumah Hitam, di Kecamatan Pangalengan
  • Situs Bumi Alit Kabuyutan, di Kecamatan Arjasari
  • Situs Makam Bosscha, di Kecamatan Pangalengan
  • Situs Gunung Padang, di Kecamatan Ciwidey, (Sebagian besar termasuk Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Cianjur).
  • Situ Patengan, di Kecamatan Rancabali
  • Situ Cileunca, di Kecamatan Pangalengan
  • Situ Cipanunjang, di Kecamatan Pangalengan
  • Situ Cisanti, di Kecamatan Kertasari
  • Situ Ciharus, di Kecamatan Paseh
  • Kawah Putih, di Kecamatan Rancabali
  • Situ Aul, di Kecamatan Pangalengan
  • Curug Cinulang, di Kecamatan Cicalengka, (sebagian termasuk Kabupaten Sumedang).
  • Curug Malabar, di Kecamatan Pangalengan
  • Curug Panganten, di Kecamatan Pangalengan
  • Curug Sanghiang, di Kecamatan Pangalengan
  • Curug Siliwangi, di Kecamatan Cimaung
  • Bumi Perkemahan Gunung Puntang, di Kecamatan Cimaung
  • Bumi Perkemahan Rahong, di Kecamatan Pangalengan
  • Ranca Upas, di Kecamatan Rancabali
  • eMTe Highland Resort, di Kecamatan Rancabali
  • Karang Gantungan, di Paseh, Bandung
  • Batu Korsi, di Kecamatan Pangalengan
  • Perkebunan Teh Malabar, di Kecamatan Pangalengan
  • Perkebunan Teh Rancabali, di Kecamatan Rancabali
  • Perkebunan Teh Gambung, di Kecamatan Pasirjambu
  • Penangkaran Rusa Kertamanah, di Kecamatan Pangalengan
  • Pemandian Air Panas Cibolang, di Kecamatan Pangalengan
  • Pemandian Air Panas Walini, di Kecamatan Rancabali

Klub olahraga

Klub olahraga yang berbasis di Kabupaten Bandung di antaranya adalah Persikab, yang merupakan singkatan dari Persatuan Sepakbola Indonesia Kabupaten Bandung, yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia pada musim 2009/2010. Untuk pertandingan kandang, Persikab menggunakan Stadion Si Jalak Harupat.

Sumber: Situs Kabupaten Bandung, Wikipedia

Keunggulan

Pemkab Bandung Raih Prestasi Terbanyak

SOREANG-Pemerintah Kabupaten Bandung berhasil meraih prestasi terbanyak dalam berbagai kejuaraan bidang Keluarga Berencana. Hal tersebut merupakan salah satu bukti keseriusan Kabupaten Bandung dalam pengendalian kependudukan.

“Jumlah penduduk perlu dikendalikan, karena kalau tidak ada pengendalian jumlah penduduk ini bisa melampaui daya dukung lingkungan yang bisa berakibat fatal bagi kelangsungan hidup manusia dan generasi yang akan datang,” ujar Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, pada Peringatan Hari Keluarga XIX dan Pencanangan Kesatuan Gerak PKK, KB, Kesehatan dan Posyandu di halaman PT. Mitra Rajawali Banjaran Kecamatan Arjasari, Senin (9/7).

Pengaturan kelahiran dengan pola Keluarga Berencana, memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mencetak generasi penerus yang produktif. Oleh karena itu, pemerintah daerah yang memiliki jumlah penduduk sekitar 3,2 juta jiwa tersebut, pada tahun 2012 tak segan-segan untuk menggelontorkan dana senilai Rp. 2.062.165.836,- atau Rp. 2 milyar lebih untuk keperluan pengelolaan Keluarga Berencana.

Bupati Bandung menyebutkan, dana sebesar itu masing-masing digunakan untuk pelayanan KB, penyediaan alat kontrasepsi bagi keluarga miskin, pembinaan kelompok bina keluarga balita, remaja, lansia, UPPKS dan PKLK serta untuk penguatan kelembagaan pengarustamaan gender.

Kepala BKBPP (Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan) Kabupaten Bandung Drg. Grace Mediana, M.kes menyebutkan, prestasi yang diraih Kabupaten Bandung dalam bidang KB tahun 2012 meliputi, juara III Pos KB terbaik tingkat nasional yang diraih Desa Cimekar Kecamatan Cileunyi, Juara I Pos KB terbaik Desa Cimekar Kec. Cileunyi tingkat Jawa Barat, Juara I Kelompok BKB Bougenvile Desa Bojongmanggu Kecamatan Pameungpeuk tingkat Jawa Barat, juara I kelompok BKR Mawar Desa Buahbatu Kecamatan Bojongsoang tingkat Jabar, juara III akseptor lestari Desa Bojong Kecamatan Majalaya tingkat Jabar dan juara II KB perusahaan tingkat Jabar yang diraih PT. Indonesia Power.

Khusus dalam kegiatan peringatan Hari Keluarga XIX, BKBPP Kab. Bandung menurut Grace Mediana telah melakukan berbagai kegiatan berupa pelayanan KB terpusat, Sosialisasi BKB, Sosialisasi BKR, UPPKS, PIKER, Sosialisasi Layak Anak disamping berbagai lomba penilaian Pos KB terbaik, BKB Kemas terbaik serta penilaian kelompok Paguyuban MOP (Methode Operasi Pria) terbaik dan PLKB teladan tingkat Kabupaten bandung.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Dadang, melakukan peninjauan pelayanan KB MOP, IUD dan Implant sebanyak 200 orang, donor darah 200 orang dan bazaar kelompok UPPKS. (bung wir)**. Selengkapnya di sini...

Kabupaten Bandung Terima Penghargaan Pangan Jabar

Adhikarya Pangan Nusantara

SOREANG – Kabupaten Bandung mendapatkan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara terbanyak untuk Hari Pangan tingkat Jawa Barat yang akan diserahkan pada Rabu besok (7/10/2015). Penghargaan yang diterima Kabupaten Bandung sebanyak enam penghargaan baik pribadi maupun lembaga.

“Alhamdulillah tahun ini Kabupaten Bandung mendapatkan banyak penghargaan bidang pangan sebagai bentuk pengakuan atas prestasi perorangan maupun lembaga,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Pertanian Kabupaten Bandung, Dadang Hermawan, Selasa (6/10).

Penerima penghargaan itu adalah Nono Sambas dalam juara I kategori pemangku pangan, juara I pelaku Tuti Waryati (ketua kelompok tani organik Sarinah Ciparay), dan juara III pembina pangan Ceceng Suparman. “Sedangkan untuk Lumbung Pangan Masyarakat meraih juara II untuk Subur Mukti Desa Cikalong, Cimaung; juara I Desa Mandiri Pangan Desa Tanjungwangi, Cicalengka, dan juara III pelopor pangan atas nama Roni Hartanto Gunawan, Desa Cileunyi Wetan,” ujarnya. Selengkapnya di sini...

Data Wilayah

Perusahaan

Peluang Investasi

West Java Inc

Sarana Olah Raga Si Jalak Harupat

Popularitas stadion Si Jalak Harupat terletak pada kemegahannya setelah Gelora Bung Karno. Stadion bertaraf internasional ini terletak di desa Kopo dan desa Cibodas, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Dibangun pada Januari

Obyek Wisata

West Java Inc

Situ Patenggang

Keindahan alam di Jawa Barat memang sudah diakui oleh masyarakat di Indonesia bahkan keluar negeri. Objek wisata yang berada di kota dan kabupaten Bandung menjadi sasaran wisatawan untuk melepaskan rasa penat

Perizinan & Pembiayaan

Profil BPMP Kabupaten Bandung

Visi dan Misi Badan Penanaman Modal Dan Perijinan

Visi BPMP:

"Terwujudnya Iklim Investasi Yang Kondusif Melalui Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu Untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah Yang Maju Mandiri dan Berdaya Saing."

Adapun maknanya adalah sbb:

  1. Kondusif,adalah keadaan situasi dan kondisi yang menunjang investasi;
  2. PPTSP, adalah merupakan lembaga yang melayani perijinan dengan prinsif praktis, transfaran dan pasti;
  3. Maju, menggunakan teknologi dalam pelayanan, baik yang berhubungan dengan investasi, maupun perijinan;
  4. Mandiri, dapat melakukan berbagai program yang berkaitan dengan investasi dan perijinan secara langsung;
  5. Berdaya saing, memiliki nilai strategis baik itu sumber daya manusia, sumber daya alam serta infratruktur lainnya.

Misi BPMP

  1. Mengembangkan Sistem Informasi di Bidang Penenaman Modal Melalui Teknologi;
  2. Merumuskan kebijakan yang mendorong pertumbuhan investasi;
  3. Meningkatkan pelayanan prima melalui Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu ( PPTSP );
  4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia ( SDM ) ke arah aparatur yang profesional, jujur dan akuntabel;
  5. Meningkatkan informasi investasi yang akurat;
  6. Mendorong terwujudnya iklimpenanaman modal yang lebih kondusif dan peningkatan peluang investasi.

Tujuan dan Sasaran

Tujuan

  1. Tersusunnya data base dan sistem informasi penanaman modal yang berisi program dan prospek potensi investasi di Kabupaten Bandung;
  2. Menjaring investor yang berfasilitas dan non fasilitas untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Bandung;
  3. Meningkatkan pelayanan di bidang penanaman modal dan perijinan;
  4. Tersusunya dan tertatanya potensi investasi yang informatif dan menguntungkan bagi para calon investor;
  5. Terlaksananya kegiatan penanaman modal yang sesuaik dengan aturan-aturan yang berlaku;
  6. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan aparat di bidang penanaman modal dan perijinan.

Sasaran :

  1. Meningkatnya jumlah investor untuk berinvestasi sesuai dengan potensi;
  2. Memberikan kemudahan kepada investor dalam mendapatkan berbagai informasi di bidang penanaman modal;
  3. Memberikan pedoman dan gambaran kepada investor untuk memilih jenis dan program investasi yang sesuai dengan keinginannya;
  4. Meningkatkan pengetahuan, kemampuan aparatur Badan Penanaman Modal dan Perijinan;
  5. Membentuk Pelayanan Perijinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP).

Tupoksi

Tugas Pokok :

Melaksanakan kebijakan di bidang penanaman modal dan perizinan yang meliputi Promosi dan Penggalian Potensi Penanaman Modal, Pengendalian dan Kerjasama Penanaman Modal, Perijinan serta melaksanakan ketatausahaan Badan;

Fungsi :

Melaksanakan perumusan dan mentukan kebijakan teknis di bidang Penanaman Modal dan Perizinan yang meliputi Promosi Investasi, Kerjasama, Pengembangan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu Satu pintu serta pelayanan teknis administrasi ketatausahaan.

Kedudukan

Badan Penanaman Modal dan Perizinan Kabupaten Bandung
dibentuk sesuai :

  1. Peraturan Daerah Kabupaten Badung No. 21 Tahun 2007 Tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kabupaten Bandung
  2. Peraturan Bupati Bandung No. 6 Tahun 2008 Tentang Rincian Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daeraqh Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung

PELAYANAN PERIJINAN TERPADU SATU PINTU

MOTTO : " PRASASTI " ( PRAKTIS TRANSFARAN PASTI )

DASAR HUKUM PPTSP

  1. UNDANG UNDANG PENANAMAN MODAL NO. 25 TAHUN 2007, TENTANG PENANAMAN MODAL;
  2. INPRES NO. 3 TAHUN 2006, TENTANG PAKET KEBIJAKAN IKLIM INVESTASI;
  3. PERMENDAGRI NO. 24 TAHUN 2006, TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU;
  4. PERPRES NO. 27 TAHUN 2009, TENTANG PELAYANAN TERPADU SATU PINTU DIBIDANG PENANAMAN MODAL;
  5. PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NO. 21 TAHUN 2007, TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI LEMBAGA TEKNIS DAERAH KABUPATEN BANDUNG;
  6. PERATURAN BUPATI BANDUNG NO. 42 TAHUN 2012, TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERIZINAN TE RPADU PADA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN  KABUPATEN;
  7. KEPUTUSAN BUPATI BANDUNG NO. 503/Kep.122-BPMP/2008 TENTANG PEMBENTUKAN TIM TEKNIS PELAYANAN PERIZINAN DAN NON PERIZINAN TERPADU DI KABUPATEN BANDUNG.

PERMENDAGRI NO. 24 TAHUN 2006 TTG PEDOMANPENYELENGGARAAN PELAYANAN TERPADU SATU PINTU :

  1. PEMERINTAH DAERAH WAJIB MENYELENGGARAKAN PTSP;
  2. BUPATI/WALIKOTA MENDELEGASIKAN KEWENANGAN PENANDATANGANAN PERIZINAN DAN NON PERIZINAN KEPADA KEPALA PTSP UNTUK MEMPERCEPAT PROSES PELAYANAN;
  3. PELAYANAN DAN KOORDINASI DILAKUKAN OLEH SATU INSTANSI BAIK MENYANGKUT ADMINISTRASI MAUPUN TEKNIS, MEKNISME KOORDINASI YANG DIPERLUKAN DALAM PEMROSESAN PERIZINAN DILAKUKAN MELALUI MEKANISME TIM TEKNIS;
  4. BENTUK PPTSP : DINAS, BADAN, KANTOR;
  5. PROSES PERIZINAN SELAMBAT-LAMBATNYA 15 HARI;
  6. TERSEDIA MEKANISME PENGADUAN.

JENIS PERIZINAN DI BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN KAB. BANDUNG:

  1. IZIN LOKASI;
  2. IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB);
  3. IZIN GANGGUAN;
  4. SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN;
  5. SURAT IZIN USAHA KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA;
  6. IZIN PRINSIP PENANAMAN MODAL (PERLUASAN DAN PERUBAHAN);
  7. IZIN USAHA PENANAMAN MODAL (IZIN USAHA, IZIN USAHA PERLUASAN, IZIN USAHA PENGBUNGAN/MERGER DAN IZIN USAHA PERUBAHAN;
  8. IZIN USAHA INDUSTRI (IUI);
  9. IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI (IUJK);
  10. IZIN PENYELENGGARAAN REKLAME;
  11. IZIN PEMBUANGAN AIR LIMBAH;
  12. TANDA DAFTAR INDUSTRI (TDI);
  13. IZIN LIMBAH B3;
  14. IZIN RUMAH SAKIT;
  15. IZIN USAHA TOKO MODERN (IUTM);
  16. IZIN MENDIRIKAN MENARA (IMM);
  17. TANDA DAFTAR PERUSAHAAN (TDP);
  18. TANDA DAFTAR GUDANG (TDG);
  19. IZIN LINGKUNGAN;
  20. IZIN USAHA PENGELOLAAN PASAR TRADISIONAL.

Sumber: BPMP Kabupaten Bandung