Provinsi Jawa Barat

396 Hits

Profil

Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia, ibu kotanya berada di Bandung.

Sejarah

Temuan arkeologi di Anyer menunjukkan adanya budaya logam perunggu dan besi sejak sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman buni (Bekasi kuna) bisa ditemukan merentang dari Anyer sampai Cirebon.

Jawa Barat pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti peninggalan KerajaanTarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan Sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).

Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi saingan ekonomi dan politik Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Kesultanan Demak. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadiKesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.

Untuk menghadapi ancaman ini, Sri Baduga Maharaja, raja Sunda saat itu, meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan orang Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa(sekarang Jakarta) kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut padrão di tepi Ci Liwung.

Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat, pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon – Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon – Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon.

Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran (ibukota Kerajaan Sunda), dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.

Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilahSoendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.

Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Perekonomian

Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat.PDRB Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai Rp.231.764 miliar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp. 5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah 4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp. 8.500,-).

Geografi

Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur,Samudera Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat.

Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.

Penduduk

Mayoritas penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon dan Kabupaten Kuningan dituturkan bahasa Cirebon yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di Kabupaten Indramayu menggunakan bahasa Cirebon dialek Indramayu atau dikenal dengan dermayon dan beberapa kecamatan yang terletak di pantai utara kabupaten Subang dan Kabupaten Karawang seperti Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon dan Pedes (Cemara) menggunakan bahasa Cirebon yang hampir mirip dengan bahasa Cirebon dialek dermayon. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, KecamatanTarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara dituturkan bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkaraktaristik kontras dengan dua identitas: masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah Jabodetabek (sekitar Jakarta) serta Bandung Raya; dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa. Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi. Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun.

Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang menggunakan ragamBahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da’wah yang diterbitkan oleh Dewan Da’wah Jawa Barat.

Iklim

Iklim di Jawa Barat adalah tropis, dengan suhu 9 °C di Puncak Gunung Pangrango dan 34 °C di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per tahun, namun di beberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tahun.

Topografi

Ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut, wilayah lereng bukit yang landai di tengah ketinggian 100 1.500 m dpl, wilayah dataran luas di utara ketinggian 0 . 10 m dpl, dan wilayah aliran sungai.

Demografi

Piramida penduduk Provinsi Jawa Barat berdasarkan hasil sensus 2010. Legenda:

  Laki-laki
  Perempuan

Peta kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Barat berdasarkan tingkat kepadatan penduduk hasil sensus 2010. Legenda:

  < 2.000
  2.000 – 3.999
  4.000 – 8.999
  9.000 – 10.999
  ≥ 11.000

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat adalah sebanyak 43.053.732 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 28.282.915 jiwa (65,69 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 14.770.817 jiwa (34,31 persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 0,41 persen di Kota Banjar hingga yang tertinggi sebesar 11,08 persen di Kabupaten Bogor.

Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Barat sebanyak 21.907.040 jiwa dan perempuan sebanyak 21.146.692 jiwa. Seks Rasio adalah 104, berarti terdapat 104 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kabupaten Ciamissebesar 98 dan tertinggi adalah Kabupaten Cianjur sebesar 107. Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 97 sampai dengan 113, dan dan kelompok umur 65-69 sebesar 96.

Median umur penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2010 adalah 26,86 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Barat termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun.

Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Jawa Barat adalah 51,20. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 48,84 sementara di daerah perdesaan 55,92.

Manufaktur

Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi untuk manufaktur termasuk di antaranya elektronik, industri kulit, pengolahan makanan, tekstil, furnitur dan industri pesawat. Juga panas bumi, minyak dan gas, serta industri petrokimia menjadi andalan Jawa Barat. Penyumbang terbesar terhadap GRDP Jawa Barat adalah sektor manufaktur (36,72%), hotel, perdagangan dan pertanian (14,45%), totalnya sebesar 51,17%. Terlepas dari adanya krisis, Jawa Barat masih menjadi pusat dari industri tekstil modern dan garmen nasional, berbeda dengan daerah lain yang menjadi pusat dari industri tekstil tradisional. Jawa Barat menymbangkan hampir seperempat dari nilai total hasil produksi Indonesia di sektor non Migas. Ekspor utama tekstil, sekitar 55,45% dari total ekspor jawa Barat, yang lainnya adalah besi baja, alas kaki, furnitur, rotan, elektronika, komponen pesawat dan lainnya.

Pertanian: Lahan dan perairan

Dikenal sebagai salah satu ‘lumbung padi’ nasional, hampir 23 persen dari total luas 29,3 ribu kilometer persegi dialokasikan untuk produksi beras. Tidak dimungkiri lagi, Jawa Barat merupakan ‘Rumah Produksi’ bagi ekonomi Indonesia, hasil pertanian Provinsi Jawa Barat menyumbangkan 15 persen dari nilai total pertanian Indonesia.Hasil tanaman pangan Jawa Barat meliputi beras, kentang manis, jagung, buah-buahan dan sayuran, disamping itu juga terdapat komoditi seperti teh, kelapa, minyak sawit, karet alam, gula, coklat dan kopi. Perternakannya menghasilkan 120.000 ekor sapi ternak, 34% dari total nasional.

Kelautan dan perikanan

Jawa Barat berhadapan dengan dua sisi lautan Jawa pada bagian utara dan samudera Hindia di bagian selatan dengan panjang pantai sekitar 1000 km. Berdasarkan letak inilah Provinsi Jawa Barat memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Suatu perencanaan terpadu tengah dilaksanakan untuk pengembangan Pelabuhan Cirebon, baik sebagai pelabuhan Pembantu Tanjung Priok Jakarta, maupun sebagai pelabuhan perikanan Jawa Barat yang dilengkapi dengan industri perikanan.Untuk potensi perairan darat, tidak hanya dari sejumlah sungai yang mengalir di Jawa Barat, Tetapi potensi ini juga diperoleh dari penampungan air / DAM saguling di Cirata dan DAM Jatiluhur yang selain menghasilkan tenaga listrik juga berguna untuk mengairi area pertanian dan industri perikanan air tawar.

Jumlah penduduk dan tenaga kerja

Dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta manusia pada tahun 2003, 16 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan urbanisasi di Provinsi tumbuh sangat cepat, khususnya disekitar JABODETABEK (sekitar Jakarta). Jawa Barat memiliki tenaga pekerja berpendididkan berjumlah 15,7 juta orang pada tahun 2001 atau 18 persen dari total nasional tenaga pekerja berpendidikan. Sebagian besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan (31%), pada industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor pelayanan (29%).

Minyak-Mineral dan geothermal

Minyak dapat ditemukan di sepanjang Laut Jawa, utara Jawa Barat, sementara cadangan geothermal (panas bumi) terdapat di beberapa derah di Jawa Barat. Tambang lain sepert Batu gamping, andesit, marmer, tanah liat merupakan pertambangan mineral yang dapat ditemukan, termasuk mineral lain yang cadangan depositnya sangat potensial, Emas yang dikelola PT. Aneka Tambang, potensinya sebesar 5,5 million ton, dan menghasilkan 12,1 gram emas per ton.

Pendidikan dan Kebudayaan

Pagelaran Wayang kulit Cirebon pada Mei 2015 yang diabadikan oleh Arie Nugraha (budayawan Cirebon) dengan lakon “Rit Madenda” di desa Mekar Asih, kecamatan Banyu Sari, kabupaten Karawangyang dipimpin oleh Ki Dalang Enang Sutriya

Perlindungan dan proses pengembangan Budaya dan Bahasa yang ada di Jawa Barat secara kongrit dimulai dengan adanya Kongres Jawa Barat, kongres Jawa Barat merupakan sebuah wadah berkumpulnya para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di Jawa Barat.

Pendidikan bahasa Cirebon

Keberagaman budaya dan bahasa yang ada di Jawa Barat sempat diuji ketika Kongres Jawa Barat yang ketiga diadakan. Tepatnya di Kota Bandung tanggal 28 Februari 1948, pada saat tersebut salah satu perwakilan masyarakat Jawa Barat dari Suku Sunda yaitu Soeria Kartalegawa yang juga ketua Partai Rakyat Pasundan (PRP) mengusulkan agar pembicaraan dalam rapat badan perwakilan tersebut (Kongres Jawa Barat) dibolehkan menggunakan Bahasa Sunda, namun kemudian usulan tersebut segera disanggah oleh perwakilan masyarakat Jawa Barat lainnya dari Suku Cirebon yaitu Soekardi:

“Djika dibolehkan berbitjara dalam bahasa Soenda, orang-orang yang ingin memakai bahasa daerah lainnya poen haroes diizinkan, oempamanja bahasa daerah Tjirebon.”

Kekosongan pelajaran muatan lokal bahasa daerah ini kemudian berusaha diisi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan memasukkan pelajaran bahasa daerah bahasa Sunda, oleh karenanya pada periode tahun 1970-an bahasa daerah yang diajarkan di wilayah Cirebon – Indramayu adalah bahasa Sunda.Kemudian pada periode sebelum tahun 1970-an Pemerintah memasukkan pelajaran bahasa Jawa untuk wilayah Cirebon dan Indramayu yang masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat di mana mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Sunda, namun ternyata guru pengajar dan muridnya tidak memahami kosakata yang digunakan tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk tidak mengajarkan bahasa Jawa di wilayah Cirebon-Indramayu.

Tetapi kebijaksanaan itu tidak tepat, sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya yaitu bahasa Cirebon.[9]Kemudian pada periode tahun selanjutnya, pengajaran bahasa Cirebon mulai untuk diajarkan di wilayah Pakaleran Majalengka yaitu wilayah utara kabupaten Majalengka yang mayoritas penduduknya merupakan keturunan Prajurit Mataram.[10] Pada wilayah Pakaleran ini, kosakata bahasa Jawa dialek Banyumasan, dialek Bumiayu, serta dialek Tegallebih terasa.

Namun pengajaran bahasa daerah pada periode tersebut belum memiliki payung hukum, karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya mengindikasikan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tanah Sunda dengan mayoritas suku Sunda yang bertutur bahasa Sunda. Setelah tahun 2003, dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang Perlindungan dan Pengembangan Budaya dan Bahasa, Jawa Barat mengakui adanya tiga suku asli yaitu Sunda, Melayu-Betawi dan Cirebon.

Pengajaran bahasa daerah non-Sunda memiliki perlindungan payung hukumnya, adapun pergerakan untuk menjadikan bahasa Cirebon sebagai sebuah bahasa yang mandiri dan terlepas dari Bahasa Jawa maupun Sunda. Maka dari itu dilakukan sebuah metode yang disebut dengan Metode Guiter, namun pada perhitungannya metode tersebut baru mencatat sekitar 75% perbedaan antara bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa. Sementara untuk diakui sebagai sebuah bahasa mandiri, diperlukan sedikitnya 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya.[11]

Namun secara nyata, penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa daerah Cirebon dan Indramayu pada periode tahun 2000-an sudah dilakukan dengan tidak menyebutkan Cirebon sebagai sebuah dialek Bahasa Jawa dan hanya disebutkan Bahasa Cirebon dan bukannya Bahasa Jawa dialek Cirebon seperti yang dilakukan pada penerbitan “Kamus Bahasa Cirebon” oleh TD Sudjana dan kawan-kawan tahun 2001 dan Wykarana – Tata Bahasa Cirebon oleh Salana tahun 2002.

Pengembangan pendidikan bahasa Cirebon

Pengembangan dan perlindungan bahasa yang diamanatkan oleh Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 dalam kaitannya dengan pengembangan Bahasa Cirebon hanya terjadi disekitar wilayah eks-karesidenan Cirebon yaitu (Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, sebagian wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian wilayahKabupaten Kuningan) sementara wilayah kabupaten lainnya yang juga didiami oleh Suku Cirebon seperti wilayah Kabupaten Subang sebelah utara dan sebagian wilayahKabupaten Karawang di Pesisir Timur hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan belum juga mendapatkan pengajaran Bahasa Cirebon, adanya ketidakmerataan pengajaran bahasa daerah di Jawa barat ini dikarenakan pemerintah memberikan hak sepenuhnya kepada Pemerintah Daerah di setiap Kabupaten/Kota untuk menentukan sendiri pengajaran bahasa daerah yang ada di wilayahnya.

Pendidikan bahasa Melayu dialek Betawi

Berbeda halnya dengan pendidikan bahasa cirebon, pendidikan bahasa betawi di wilayah Provinsi Jawa Barat mengalami hal yang lebih parah dari masalah yang dialami oleh bahasa cirebon, pendidikan Bahasa Betawi hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan sama sekali belum dilakukan di wilayah yang didiami oleh suku betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, sebagian Kabupaten Bogor wilayah Utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang danKabupaten Purwakarta sebelah barat, padahal penelitian tentang Bahasa Betawi telah cukup banyak dilakukan, di antaranya:

  1. K. Ikranegara (1980). Melayu Betawi Grammar. Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia 9. Jakarta: NUSA.
  2. S. Wallace (1976). Linguistic and Social Dimensions of Phonological Variation in Jakarta Malay. PhD. Dissertation, Cornell University.
  3. Klarijn Loven (2009). Watching Si Doel: Television, Language and Cultural Identity in Contemporary Indonesia, 477 halaman, ISBN 90-6718-279-6. Penerbit: The KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies at Leiden.
  4. Lilie M. Roosman (April 2006). Lilie Roosman: Phonetic experiments on the word and sentence prosody of Betawi Malay and Toba Batak, Penerbit: Universiteit Leiden.

Pengembangan pendidikan bahasa Melayu dialek Betawi

Hingga tahun 2011 Pemerintah Daerah yang wilayahnya didiami oleh Suku Betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang masih belum mengadakan pendidikan bahasa daerah Bahasa Melayu dialek Betawi dan hanya mengajarkan pendidikan bahasa daerah Bahasa Sunda.

Perguruan tinggi negeri

  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Cirebon
  • Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Sumedang
  • Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor
  • Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung
  • Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung (Poltekkes),Bandung
  • Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN), d/h Politeknik Mekanik Swis-ITB Bandung, Bandung
  • Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), d/h Politeknik ITB Bandung, Bandung
  • Politeknik Negeri Sukabumi (Polsu), Sukabumi
  • Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS Bandung), Bandung
  • Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB), d/h National Hotel Institute (NHI), Bandung
  • Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI Bandung), d/h ASTI Bandung, Bandung
  • Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT), d/h Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung
  • Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD), Bekasi
  • Universitas Indonesia (UI), Kota Depok
  • Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN Bandung), Bandung
  • Universitas Padjadjaran (Unpad), dengan lokasi kampus di,Bandung dan Sumedang
  • Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), d/h IKIP Bandung, dengan lokasi kampus pusat di Bandung, dan kampus daerah di Kabupaten Bandung, Purwakarta, Sumedang, dan Tasikmalaya
  • Universitas Siliwangi (UNSIL), Tasikmalaya
  • universitas singaperbangsa karawang (UNSIKA), Karawang

Perguruan tinggi swasta

  • Institut Teknologi Nasional (Itenas), di Bandung
  • Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), di Tasikmalaya
  • Institut Agama Islam Darussalam Ciamis (IAID) Ciamis
  • Institut Teknologi Telkom (IT Telkom), di Bandung
  • Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), di Bandung
  • Universitas Telkom, di Bandung
  • Universitas Katolik Parahyangan (Unpar),di Bandung
  • Universitas Langlangbuana (Unla), di Bandung
  • Universitas Kristen Maranatha, di Bandung
  • Universitas Islam Bandung (Unisba), di Bandung
  • Universitas Pasundan (Unpas), di Bandung
  • Universitas Widyatama (Utama), di Bandung
  • Universitas Garut (Uniga), di Garut
  • Universitas Islam Nusantara (Uninus), di Bandung
  • Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati), di Cirebon
  • Universitas Galuh (unigal), di Ciamis
  • Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA), di Bogor
  • Universitas Pakuan (Unpak), di Bogor
  • Universitas Komputer Indonesia (Unikom), di Bandung
  • Universitas Winaya Mukti (Unwim), di Jatinangor Sumedang
  • Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), di Jatinangor Sumedang
  • Universitas Sebelas April (Unsap), di Sumedang
  • Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (Unibi), di Bandung
  • Universitas Majalengka (Unma), di Majalengka
  • Universitas Kuningan (Uniku), di Kuningan
  • Sekolah Tinggi Kesehatan Kuningan (STIKKU), di Kuningan
  • Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Al-IHYA), di Kuningan
  • Sekolah Tinggi Agama Islam AT-TAQWA (STAIA), di Bekasi
  • Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB), di Bandung
  • Universitas Bale Bandung (Unibba), di Bandung
  • Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Al-Ishlah (STEI Al-ISHLAH), di Cirebon
  • Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra (STT NUSA PUTRA), di Sukabumi
  • Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Al-AMIN), di Sukabumi
  • Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer Tasikmalaya (STMIK Tasikmalaya), di Kota Tasikmalaya
  • Universitas Wiralodra (Unwir), di Indramayu
  • Universitas Subang (Unsub), di Subang
  • Universitas Gunadarma (UG), di Depok
  • Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), di Sukabumi
  • Universitas Sukabumi (Unsu), di Sukabumi
  • Universitas Singaperbangsa (Unsika), di Karawang
  • Universitas Purwakarta (Unpur), di Purwakarta
  • Universitas Sutan Mahesa (Unsuma), di Sukabumi Utara
  • STIE DR.KHEZ Muttaqien (STIE Muttaqien), di Purwakarta
  • Universitas Islam “45” (Unisma), di Bekasi
  • Sekolah Tinggi Teknologi Wastukancana (STT Wastukancana), di Purwakarta
  • Politeknik Pos Indonesia (Polposindo), di Bandung
  • Universitas Muhammadiyah Bandung (Unimba), di Bandung
  • Universitas Suryakancana (Unsur), di Cianjur
  • Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), di Cirebon
  • Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), di Cirebon
  • Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon (UNTAG) di Cirebon
  • Universitas Perjuangan Tasikmalaya (UNPERTAS) di Tasikmalaya
  • Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) di Tasikmalaya

Pemerintahan

Peta Jawa Barat dengan daftar pembagian Kabupaten.Jawa Barat terdiri atas 18 kabupaten dan 9 kota. Kota-kota hasil pemekaran sejak tahun 1996 adalah:

  • Kota Bekasi, dimekarkan dari Kabupaten Bekasi pada tahun 1996
  • Kota Depok, dimekarkan dari Kabupaten Bogor pada tahun 1999
  • Kota Cimahi, dimekarkan dari Kabupaten Bandung pada tahun 2001
  • Kota Tasikmalaya, dimekarkan dari Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2001
  • Kota Banjar, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2002
  • Kabupaten Bandung Barat, dimekarkan dari Kabupaten Bandung tahun 2007
  • Kabupaten Pangandaran, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis tahun 2012

Daftar Kabupaten dan kota

No. Kabupaten/Kota Pusat pemerintahan Kecamatan Kelurahan/Desa Bupati/Wali Kota Logo

West Java coa.svg
Lokasi
1 Kabupaten Bandung Soreang 31 10/270 Daftar bupati Dadang M. Nasser
Lambang Kabupaten Bandung.png
Locator kabupaten bandung.png
2 Kabupaten Bandung Barat Ngamprah 16 -/165 Daftar bupati Abu Bakar
Kabupaten Bandung Barat.gif
Locator kabupaten bandung barat.png
3 Kabupaten Bekasi Cikarang 23 7/180 Daftar bupati Neneng Hassanah Yasin
Logo Kabupaten Bekasi.jpg
Locator kabupaten bekasi.png
4 Kabupaten Bogor Cibinong 40 17/417 Daftar bupati Nurhayanti
Lambang Kabupaten Bogor.png
Locator kabupaten bogor.png
5 Kabupaten Ciamis Ciamis 26 7/258 Daftar bupati Iing Syam Arifin
Lambang kabupaten ciamis.gif
Ciamis locator map.png
6 Kabupaten Cianjur Cianjur 32 6/354 Daftar bupati Irvan Rivano Muchtar
Lambang Kabupaten Cianjur.gif
Locator kabupaten cianjur.png
7 Kabupaten Cirebon Sumber 40 12/412 Daftar bupati Sunjaya Purwadi Sastra
Lambang Kabupaten Cirebon.gif
Locator kabupaten cirebon.png
8 Kabupaten Garut Garut 42 21/421 Daftar bupati Rudi Gunawan
Lambang Kabupaten Garut.gif
Locator kabupaten garut.png
9 Kabupaten Indramayu Indramayu 31 8/309 Daftar bupati Anna Sophana
Lambang Kabupaten Indramayu.png
Locator kabupaten indramayu.png
10 Kabupaten Karawang Karawang 30 12/297 Daftar bupati Cellica Nurrachadiana
Lambang Kabupaten Karawang.png
Locator kabupaten karawang.png
11 Kabupaten Kuningan Kuningan 32 15/361 Daftar bupati Acep Purnama (Plt.)
Logo Kabupaten kuningan.jpg
Locator kabupaten kuningan.png
12 Kabupaten Majalengka Majalengka 26 13/330 Daftar bupati Sutrisno
Lambang Kabupaten Majalengka.jpeg
Locator kabupaten majalengka.png
13 Kabupaten Pangandaran Parigi 10 -/93 Daftar bupati Jeje Wiradinata
Logo-pangandaran-perbup.no.4.thn.2013.png
80px
14 Kabupaten Purwakarta Purwakarta 17 9/183 Daftar bupati Dedi Mulyadi
Logo Purwakarta Color.jpg
Locator kabupaten purwakarta.png
15 Kabupaten Subang Subang 30 8/245 Daftar bupati Imas Aryumningsih (Plt.)
Lambang Kabupaten Subang.jpeg
Locator kabupaten subang.png
16 Kabupaten Sukabumi Palabuhanratu 47 5/381 Daftar bupati Marwan Hamami
Lambang Kabupaten Sukabumi.png
Locator kabupaten sukabumi.png
17 Kabupaten Sumedang Sumedang 26 7/276 Daftar bupati Eka Setiawan (Plt.)
Lambang Kabupaten Sumedang.png
Locator kabupaten sumedang.png
18 Kabupaten Tasikmalaya Singaparna 39 -/351 Daftar bupati Uu Ruzhanul Ulum
Tasikmalaya Regency Seal.png
Locator kabupaten tasikmalaya.png
19 Kota Bandung 30 151/- Daftar wali kota Ridwan Kamil
Bandung coa.png
Locator kota bandung.png
20 Kota Banjar 4 9/16 Daftar wali kota Ade Uu Sukaesih
Logo kota banjar.gif
Locator kota banjar.png
21 Kota Bekasi 12 56/- Daftar wali kota Rahmat Effendi
Coat of arms of Bekasi.png
Locator kota bekasi.png
22 Kota Bogor 6 68/- Daftar wali kota Bima Arya
Lambang Kota Bogor.png
Locator kota bogor.png
23 Kota Cimahi 3 15/- Daftar wali kota Atty Suharti Tochija
Logo-Cimahi.png
Locator kota cimahi.png
24 Kota Cirebon 5 22/- Daftar wali kota Nasrudin Azis
Lambang Kota Cirebon.gif
Locator kota cirebon.png
25 Kota Depok 11 63/- Daftar wali kota Idris Abdul Shomad
Lambang Kota Depok.png
Locator kota depok.png
26 Kota Sukabumi 7 33/- Daftar wali kota Mohamad Muraz
Lambang Kota Sukabumi.png
Locator kota sukabumi.png
27 Kota Tasikmalaya 10 69/- Daftar wali kota Budi Budiman
Logo Kota Tasikmalaya.png
Locator kota tasikmalaya.png

Daftar Gubernur

No Gubernur Mulai Jabatan Akhir Jabatan Keterangan Wakil Gubernur
1 Gubernur Jawa Barat Sutardjo Kertohadikusumo.jpg Mas Sutardjo Kertohadikusumo
18 Agustus 1945
Desember 1945
2 Mr. datuk djamin 1945-1946.jpg Datuk Djamin
Desember 1945
1946
3 Dr-Moerdjani.jpg Murdjani
1946
1947
4 Mr. mas sewaka 1947-1948, 1950-1952.jpg R. Mas Sewaka
1947
1948
5 MPU Ukar B.jpg Ukar Bratakusumah
1948
1950
Masa PDRI
6 Mr. mas sewaka 1947-1948, 1950-1952.jpg R. Mas Sewaka
1950
1951
7 Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata.jpg Sanusi Hardjadinata
1951
1956
8 Gubernur Jawa Barat Ipik Gandamana.jpg Ipik Gandamana
1956
1959
9 Gubernur Jawa Barat Mashudi.jpg Mashudi
1960
1965
 Periode pertama
1965
1970
Periode kedua
R.A Nashuhi
10 Gubernur Jawa Barat Solihin GP.jpg Solihin G.P.
1970
1975
11 Aang Kunaefi.jpg Aang Kunaefi
1975
1980
Periode pertama
1980
1985
Periode kedua Soehoed Warnaen Peraatmadja
12 Yogi Suardi Memet.jpg Yogie Suardi Memet
1985
1993
Soeryatna Soebrata
13 H.r.nuriana, mayjen (purn) 1993-1998, 1998-2003(1).jpg R. Nuriana
1993
1998
Periode pertama Ukman Sutaryan
Sampurna
1998
2003
Periode kedua Husein Jachjasaputra
Soedharma TM
14 Danny setiawan.jpg Danny Setiawan
13 Juni 2003
13 Juni 2008
Nu’man Abdul Hakim
15 Gubernur Aher.jpg Ahmad Heryawan
13 Juni 2008
13 Juni 2013
Periode pertama
Dede Yusuf
13 Juni 2013
petahana
Periode kedua
Deddy Mizwar

Sumber: Infografis Jawa BaratWikipedia

Data Wilayah